Merek Mobil di Indonesia Makin Banyak, tapi Akhirnya Saling ‘Makan’ karena Pasarnya Lesu

Berita Otomotif

JAKARTA – Jumlah merek mobil di Indonesia semakin banyak saja. Sayangnya, di tengah pelemahan daya beli plus penurunan penjualan seperti sekarang ini, akhirnya mereka malah saling ‘memakan’ pasar dari merek yang lain alih-alih membesarkan pasar.

Daftar merek mobil di dalam data penjualan retail Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) periode Januari-September 2025 bertambah jika dibandingkan tahun lalu. Jenama-jenama itu kebanyakan berasal dari China.

Sebut saja misalnya Denza—merek premium dari BYD, Jaecoo, Jetour, XPeng, atau Maxus. Dari luar China, antara lain terdapat merek VinFast yang mulai mencatatkan transaksi jual-beli pada 2025.

Ini masih ditambah lagi beberapa merek lokal yang mencoba peruntungan di antara para ‘raksasa’ otomotif global, dengan cara me-rebadge mobil-mobil dari pabrikan asal China. Merek-merek lokal yang dimaksud ialah Polytron maupun Aletra.

Namun, penjualan mobil dari sisi retail pada 2025, hingga kuartal ketiga, cuma mampu menyentuh 585.917 unit. Terjadi penurunan 10,9 persen kalau dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Para ‘pemain’ di pasar mobil baru Indonesia saat ini malah saling menggerus pangsa pasar. Salah satu buktinya adalah penurunan market share ‘The Big 5’ alias lima merek mobil paling populer di Indonesia yang semuanya berasal dari Jepang.

Sepanjang Januari-September 2025, kelima merek itu yakni Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi Motors, dan Suzuki secara akumulatif hanya menguasai 74,4 persen dari pasar. Biasanya, kelima ‘samurai’ perkasa ini selalu menguasai lebih dari 80 persen penjualan di pasar mobil baru Indonesia.

Pada Januari-September 2024 silam, pangsa pasar Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi Motors, plus Suzuki jika dijumlahnya mencapai 80,5 persen.

Para eksekutif agen pemegang merek (APM) berbagai pabrikan otomotif, dalam beragam kesempatan, sudah menjelaskan bahwa pasar mobil baru pada 2025 diadang banyak tantangan.

‘Tembok’ penghalang pertumbuhan penjualan paling utama ialah pelemahan ekonomi, pelemahan daya beli, pengetatan kredit, dan sikap ‘wait and see’ dari konsumen kelas menengah ke atas yang sebenarnya memiliki kemampuan membeli.

Para pengurus Gaikindo sendiri sudah merevisi target penjualan mobil baru sebanyak satu kali pada awal 2025, dari 900 ribu unit menjadi 850 ribu unit. Melihat kondisi yang ada, mereka membuka peluang melakukan revisi target kedua di bulan-bulan terakhir 2025. [Xan]

Tag Terkait

penjualan mobil 2025 penjualan mobil September 2025 merek mobil China di Indonesia merek mobil di Indonesia

Author

Berita Utama

Berita Populer

Lihat semua »