Kelebihan dan Kekurangan Jetour T2: Seberapa Tangguh SUV Boxy Ini di Medan Offroad?
ReviewJAKARTA – Layaknya mobil-mobil lain, Jetour T2 pun punya kelebihan dan kekurangan. Kedua aspek itu akhirnya bisa ditelisik saat Mobil123.com melakukan test drive singkat sehari penuh di dua dunia: onroad dan offroad.
Jetour T2 merupakan SUV boxy yang meluncur akhir November 2025 dalam ajang GJAW (Gaikindo Jakarta Auto Week) di ICE BSD, Tangerang, Banten.
Di awal kemunculan Jetour T2, hanya ada satu varian yang dipasarkan yakni mesin 2.0-liter turbo bertransmisi DCT (Dual Clutch Transmission), seharga Rp568 juta OTR (on the road) Jakarta bagi 500 konsumen pertama yang kemudian diperbanyak menjadi 1.000 konsumen pertama.
Sebagai sebuah SUV boxy, sudah semestinya Jetour T2 bisa ‘hidup di dua alam’ yaitu onroad dan offroad.
Beruntung, pada 18 Desember 2025, Mobil123.com berkesempatan melakukan test drive untuk mengetahui performanya di ‘dua alam’. Pertama di Sirkuit Offroad Pagedangan, Serpong. Selanjutnya di rute onroad Pagedangan, Serpong menuju Cilandak Town Square, Jakarta.
Hasil test drive Jetour T2 ini dirangkum menjadi poin-poin kelebihan dan kekurangan. Informasi spesifikasi lengkapnya sendiri bisa dibaca di tautan ini.
Kelebihan Jetour T2
-
Desainnya Sangat ‘Rugged’, dengan Dimensi Kabin Luas
Desain Jetour T2 bakal terlihat sangat ‘indah’ di mata para konsumen pria. Bentuknya sangat jantan dan maskulin, dengan konsep ‘Rugged Adventure SUV, Rugged Design, Rugged Power’. Dimensi kabinnya, berkat bodi berdimensi panjang 4.785 mm, lebar 2.006 mm, tinggi 1.880 mm, dan ground clearance 220 mm juga luas.
-
Mesin Bertenaga dan Akselerasi di Jalanan Cepat
Jetour T2 diberkahi mesin Kunpeng 2.0-liter TGDI, dengan tenaga dan torsi sangat cukup untuk di jalanan aspal alias onroad (245 ps dan 375 Nm). Akselerasinya di jalan raya juga sangat sigap karena kehadiran transmisi DCT.
-
Kabin Mewah, Fitur Berlimpah
Kabin Jetour T2 masih menampilkan kesan maskulin sekaligus aura kemewahan. Sebagai pelengkap, terdapat sederet fitur premium. Sebutnya misalnya Intelligent Voice Command ‘Hallo Jetour’, Power Panoramic Sunroof 65 Inci, Head Unit Touchscreen 15,6 Inci, LCD Cluster 10,25 Inci, 6 Airbag, Fast Wireless Charger, Intelligent Seat with Electric Seat Cooled and Heated Function, Dual Zone AC with CN95 Air Filter, teknologi ADAS dengan 10 fitur, Sony Premium Audio System, Electric Parking Brake, Auto Brake Hold, Anti-lock Braking System, Electronic Brakeforce Distribution, Brake Assist.
-
Kemampuan Offroad Lewat Teknologi Intelligent X-AWD dan 7+1 Drive Mode
Jetour T2 memang benar-benar bisa dibawa ke medan offroad. Ini semua berkat teknologi Intelligent X-AWD yang dibekali 7+1 Drive Mode plus fitur Offroad Crawling. Pilihan mode berkendaranya ialah Standard, Eco, Sport, Rock, Sand, Snow. Jika tak mau repot, terdapat X-Mode yang bisa secara pintar menentukan sendiri mode berkendara yang paling sesuai kondisi jalan. Wading Depth (kemampuan melewati genangan) Jetour T2 ialah 700 mm.
-
Struktur Kuat dan Bisa Menanggung Beban Berat di Atap
Struktur Jetour T2 diklaim kokoh berkat hardtop cage body yang mengandung 80 persen high-strength steel, dengan metal underbody shield. Atapnya masih diperkuat 8 cross beam dan disebut mampu beban statis (saat diam) 300 kg atau beban dinamis (saat berjalan) 300 kg. Kapasitas bagasi dalam kabin kalau kursi baris kedua ditegakkan 574 liter dan bisa menjadi 1.455 liter kalau kursi-kursi baris kedua dilipat.
Kekurangan Jetour T2
-
Suspensinya Terlalu Rigid untuk Perkotaan
Setelan suspensi McPherson (depan) maupun Multi-link (belakang) milik Jetour T2 terlalu rigid saat dibawa berjalan di perkotaan. Di satu sisi, body rollnya memang menjadi sangat minim. Namun, efek lainnya adalah kenyamanann para penumpang khususnya yang berada di baris kedua menjadi berkurang.
-
Transmisi DCT Membatasi Kemampuan Offroad-nya
Transmisi DCT mungkin memberikan akselerasi cepat dan sensasi berkendara lebih moncer di perkotaan. Sayangnya, transmisi DCT terasa kurang cocok mendampingi Jetour T2 di medan offroad karena justru menjadi kurang sigap berpindah-pindah gigi. Terlebih, transmisi DCT saat test drive terbukti cepat panas di medan offroad yang berat, seperti terlihat lewat notifikasi pada head unit. Oleh karena itu, kemampuan Jetour T2 pun menjadi terbatasi menjadi hanya di medan offroad ringan/fun offroad saja jika ingin perjalanan Anda tetap lancar.
-
Konsumsi BBM-nya Tak Bisa Dikatakan Hemat
Dalam perjalanan pulang Serpong-Cilandak Town Square, terbukti bahwa Jetour T2 punya konsumsi BBM (bahan bakar minyak) yang tak bisa dikatakan hemat. Dengan kecepatan rata-rata hanya sekitar 40-an kilometer per jam karena konvoi dan kondisi macet, konsumsi BBM Jetour T2 berkisar di 10 kilometer per liter, menurut informasi yang tertera dalam MID (Multi Information Display).
Kesimpulan
Jetour T2 adalah SUV boxy dengan ‘tongkrongan’ sangat jantan. Akselerasinya di jalanan aspal sangat baik, dengan body roll yang stabil karena bantingannya yang keras. Di sisi lain, kenyamanan penumpang menjadi berkurang karena setelan suspensinya terlampau keras.
Tak diragukan lagi, Jetour T2 adalah SUV boxy ‘dua dunia’ yang bisa dibawa onroad dan offroad. Sayang, transmisi DCT yang membuatnya kencang di jalan aspal justru melimitasi kemampuannya di medan offroad.
Jika saja diberkahi transmisi otomatis yang lain, Jetour T2 sangat mungkin mampu melibas trek offroad berat seharian, bukan hanya ringan atau sedang. [Xan]