Kaleidoskop 2024: Insentif Mobil Hybrid Jadi 'Kado' Akhir Tahun
Mobil ListrikJAKARTA – Mendekati penghujung 2024, ada ‘hadiah’ bagi para pabrikan otomotif di Indonesia yang ingin mengembangkan mobil hybrid. Pemerintah akhirnya memastikan pemberian insentif bagi kendaraan yang mengombinasikan mesin konvensional dengan sistem penggerak listrik itu.
Seperti diketahui, insentif untuk mobil berteknologi elektrifikasi yang pertama kali diinisiasi pada 2019 hingga kini lebih banyak ditujukan kepada mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV). Padahal, ‘mazhab’ pengembangan kendaraan elektrifikasi saat ini terbelah dua.
Di satu sisi, ada yang tanpa ragu langsung loncat ke mobil listrik, seperti merek-merek asal China. Di sisi berlawanan, terdapat pihak yang mau melakukannya secara bertahap melalui mobil hybrid, seperti merek-merek asal Jepang.
Melihat paket stimulus yang ada, sebagian pelaku industri otomotif di Tanah Air pun selama beberapa tahun terakhir konsisten mengusulkan insentif mobil hybrid kepada pemerintah, melalui Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) serta Kementerian Perindustrian.
Usaha itu baru berbuah menjelang penutupan 2024. Dalam konferensi pers ‘Paket Stimulus Ekonomi untuk Kesejahteraan’ yang disiarkan via akun YouTube Kementerian Koordinator Perekonomian RI pada Senin (16/12/2024), pemerintah mengumumkan pemberian insentif mobil hybrid mulai 2025.
Adapun bentuknya ialah Pajak Penjualan Barang Mewah Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) sebesar 3 persen. Mobil hybrid yang ingin menikmati stimulus ini diwajibkan untuk dirakit secara lokal, bukan produk impor utuh (completely built up/CBU).
Insentif mobil hybrid ini bisa dinikmati mulai Januari 2025, tergantung seberapa cepat pabrikan bisa mendaftarkan model yang memenuhi syarat tersebut kepada pemerintah.
Eksekutif Toyota dan Mitsubishi yang diwawancarai Mobil123.com dalam kesempatan terpisah mengucapkan apresiasi dan terima kasih atas kebijakan pemerintah tersebut.
President and CEO Mitsubishi Motors Corporation Takao Kato, yang datang ke Indonesia untuk menghadiri seremoni produksi lokal 1 juta unit, bahkan berharap PPnBM DTP 3 persen merupakan awal dari insentif-insentif mobil hybrid lainnya pada masa mendatang.
Kepastian adanya insentif mobil hybrid menjadi kisah penutup dari pasar otomotif di Indonesia pada 2024 yang penuh tantangan.
Pelemahan daya beli dan ekonomi, pengetatan kredit, plus efek tahun politik membuat Gaikindo mengoreksi target penjualan mobil nasional 2024 dari 1,1 juta unit menjadi 850 ribu unit saja.
Padahal, pada 2023, pasar mobil sudah turun menjadi 998.059 unit dari sisi penjualan retail, dari 1.013.852 unit pada 2022.
Adapun penjualan mobil secara retail di Indonesia sejak Januari-November 2024 tercatat menyentuh 806.721 unit. [Xan]