Menperin: Pada 2024 Ada 3 Merek Janji Bikin Pabrik Mobil Listrik di Indonesia
Mobil ListrikJAKARTA – Ada beberapa merek otomotif lagi yang sudah mengikat komitmen membangun pada mobil listrik pada 2024, sebut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Jumlah pabrik mobil di Indonesia akan bertambah lagi. Sepanjang tahun ini, menurut Agus, Kementerian Perindustrian sudah menerima janji dari para pabrikan otomotif besar asal Asia maupun Eropa terkait investasi pembangunan pabrik perakitan kendaraan.
“Pada 2024, ada tiga perusahaan yang memberi komitmen akan membangun fasilitas produksi atau pabrik di Indonesia untuk otomotif, khususnya untuk EV (electric vehicle/mobil listrik). Pertama adalah BYD, kedua Citroen, ketiga Aion,” terang dia dalam konferensi pers Paket Stimulus Ekonomi untuk Kesejahteraan yang disiarkan YouTube Kementerian Koordinator Perekonomian RI, Senin (16/12/2024).
Berdasarkan informasi yang sudah dihimpun dari eksekutif ketiga pabrikan itu pada berbagai kesempatan, diketahui kalau pabrik BYD, Citroen, GAC Aion di Provinsi Jawa akan berada di tiga area yang berbeda.
BYD akan berlokasi di Subang. Adapun pabrik Citroen maupun GAC Aion masing-masing berada di Purwakarta dan Cikampek.
BYD berencana mulai membangun pabrik mobil listrik mereka di Indonesia pada 2025.
Citroen akan menggunakan fasilitas manufakturing milik Indomobil Group dan menargetkan mulai beroperasi tahun ini. Namun, data produksi mobil nasional milik Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) per Januari-November 2024 belum mencatat adanya aktivitas tersebut.
GAC Aion yang awalnya juga ingin menggunakan fasilitas milik Group Indomobil berubah pikiran dan bakal membangun pabrik milik mereka sendiri. Targetnya, pada Mei 2025, pabrik mobil listrik GAC Aion mulai beroperasi.
Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa komitmen membangun pabrik membuat BYD, Citroen, GAC Aion bisa menikmati insentif mobil listrik impor utuh (completely built up/CBU) dari pemerintah. Adapun bentuk stimulusnya ialah bebas bea masuk maupun Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).
Sebelum adanya kebijakan itu, hanya mobil listrik rakitan lokal dengan tingkat komponen dalam negeri di level tertentu yang berhak menikmati insentif pemerintah.
“Ketiga perusahaan dan merek tersebut akan menikmati insentif stimulus yang sudah disampaikan yaitu bea masuk 0 persen dan PPnBM DTP (Ditanggung Pemerintah) 15 persen. Ini upaya pemerintah memberikan sinyal kepada investor bahwa sebetulnya regulasi di Indonesia cukup kompetitif, khususnya untuk hal-hal yang berkaitan dengan insentif dan stimulus,” papar dia.
Sampai pabrik mereka beroperasi, BYD serta GAC Aion sementara ini masih mengimpor utuh mobil-mobil listrik mereka secara utuh dari China. Citroen mengimpor mobil listrik mereka dari India.
Sudah banyak merek otomotif yang melakukan perakitan lokal mobil listrik di negeri ini, baik menggunakan pabrik milik sendiri atau pun memanfaatkan fasilitas manufaktur milik rekanan. Sebut saja, misalnya, Wuling, MG, Chery, Neta, Hyundai. [Xan]