Kupas Tuntas Perbedaan Mobil Listrik dan Mobil Bensin dari Sisi Teknis hingga Biaya

Panduan Pembeli

Perbedaan mobil listrik dan mobil bensin cukup signifikan, baik dari sisi teknis sampai dengan biaya operasionalnya. Bermacam diferensiasi tersebut membuat masing-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan.

Pilihan mobil di pasar Indonesia saat ini sangatlah banyak, bukan hanya dari sisi merek tapi juga dari sisi teknologi dapur pacu. Konsumen di Tanah Air sekarang tidak hanya bisa membeli mobil bermesin konvensional, melainkan juga mobil listrik dari berbagai segmen harga.

Seperti mobil bensin, mobil listrik pun kini sudah ada yang berharga Rp200 jutaan hingga miliaran rupiah. Namun, ada baiknya konsumen jangan buru-buru memutuskan beli yang mana, sebelum mengetahui perbedaan mobil listrik dan mobil bensin.

Soalnya, karakteristik plus pengalaman berkendara mobil listrik bakal sangat kontras dengan mobil konvensional yang masih menggunakan internal combustion engine (ICE/mesin pembakaran internal).

Dengan memahami perbedaan mobil listrik dan mobil bensin, konsumen akan bisa memutuskan secara bijak mana di antara keduanya yang sesuai dengan kebutuhan maupun kondisi masing-masing.

7 Perbedaan Mobil Listrik dan Mobil Bensin, Apa Saja?

Berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber serta catatan pemberitaan Mobil123.com, untuk saat ini setidaknya terdapat tujuh poin perbedaan mobil listrik dan mobil bensin. Perbedaan-perbedaan itu mencakup aspek teknis atau pun non-teknis.

Ada yang terkait dengan sumber energi dapur pacunya, produksi emisi, rasa berkendara, jarak tempuh plus lama waktu pengisian energi, infrastruktur pendukung, biaya operasional serta perawatan, dan harga jual kembali (resale value).

Sumber Energi Dapur Pacu

Perbedaan mobil listrik dan mobil bensin yang pertama pastinya terkait dengan dapur pacu.

‘Otak’ dari pergerakan mobil konvensional adalah mesin ICE yang sumber energinya berasal dari bahan bakar minyak (BBM). Mesin itu kemudian didukung paling-tidak 3.000 komponen agar mobil bisa berjalan.

Sementara itu, jumlah komponen mobil listrik hanya kisaran 600, dengan komponen utama berupa baterai, power control unit (PCU), drive motor (motor penggerak), dan charging system (sistem pengisian daya).

Produksi Emisi

Energi dalam mobil konvensional masih dihasilkan dari proses pembakaran BBM di dalam mesin, sehingga menghasilkan emisi gas buang. Adapun daya mobil listrik sepenuhnya datang dari arus listrik di dalam baterai yang bisa dicas ulang, sehingga tidak ada emisi yang dihasilkan alias zero emission.

Inilah mengapa mobil listrik menjadi bagian dari teknologi new energy vehicle (NEV), dengan karakteristik lebih ramah lingkungan serta mendukung kebijakan ‘ekonomi hijau’ yang makin menjadi perhatian masyarakat global.

Rasa Berkendara

Mobil listrik menjanjikan pengalaman berkendara atau rasa berkendara yang lebih mengasyikkan ketimbang mobil konvensional. Soalnya, torsi puncak mobil listrik bisa dirasakan secara instan begitu pedal gas diinjak.

Ini berbeda dari torsi tertinggi dari mobil bensin atau diesel yang baru bisa dirasakan ketika mencapai putaran mesin tertentu.

Pengalaman berkendara yang berbeda lainnya dari mobil listrik adalah kabin yang jauh lebih senyap daripada mobil konvensional. Pasalnya, pengemudi dan penumpang dalam kabin tak perlu mendengar kinerja mesin ICE yang sudah digantikan oleh baterai plus motor penggerak.

Jarak Tempuh dan Lama Waktu Pengisian Energi

Perbedaan mobil listrik dan mobil bensin selanjutnya menyangkut kemampuan jelajah di antara keduanya.

Sebagian besar model mobil listrik khususnya yang berbanderol terjangkau masih memberikan range anxiety (kecemasan soal jarak tempuh) karena baterainya ‘hanya’ mampu menyediakan energi antara 200-400 km. Setelah itu, baterai perlu diisi ulang terlebih dahulu.

Waktu pengecasan baterainya pun tergolong lama. Dengan sistem fast charging saja, pengguna mobil listrik masih butuh antara 15-30 menit untuk mengisi kapasitas baterai dari 10 persen menjadi 70-80 persen.

Kondisi tersebut berbeda jauh dengan mobil konvensional yang hanya butuh beberapa menit untuk mengisi BBM. Kalau pun harus mengantre di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum), jarang sekali perlu waktu hingga 15 menit.

Ketersediaan Infrastruktur Pendukung

Mobil listrik memerlukan infrastruktur pendukung utama berupa SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum). Nah, sampai dengan awal Mei 2025, Indonesia diklaim baru punya 3.000-an SPKLU dan itu pun masih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa-Bali.

Target SPKLU dari PLN (PT Perusahaan Listrik Negara) pada akhir 2025 tercatat 6.278 unit.

Di sisi lain, jaringan SPBU untuk mobil konvensional yang menjual BBM dari merek Pertamina, Shell, BP AKR, maupun Vivo sudah sangat komprehensif.

Gampang sekali menemukan SPBU dari keempat merek itu di jalan, sehingga para pengguna mobil konvensional tak perlu cemas kesulitan mengisi BBM.

Biaya Pemakaian dan Perawatan

Perbedaan mobil listrik dan mobil bensin juga terletak pada biaya pemakaian dan perawatan. Mobil listrik disebut-sebut menjanjikan biaya pemakaian dan perawatan jauh lebih rendah ketimbang mobil bermesin ICE.

Bayangkan saja, biaya cas baterai mobil listrik di SPKLU menurut regulasi adalah Rp2.466 per kWh. Terdapat biaya tambahan Rp25 ribu per pengisian jika menggunakan fast charging atau Rp52 ribu per pengisian untuk ultra fast charging.

Biaya cas baterai mobil listrik di rumah malah lebih ‘bersahabat’ yakni Rp1.699 per kWh. Dengan demikian, kalau saat berada di rumah kita mengecas mobil listrik yang memiliki baterai berkapasitas 66 kWh serta berjarak tempuh 500 km dari 0 persen sampai penuh, biayanya hanya Rp112 ribuan.

Sebagai perbandingan, harga BBM RON 92 per 1 Mei 2025 berkisar antara Rp12.400-12.730 per liter. Andai kata mengemudikan mobil bensin dengan konsumsi BBM superhemat yakni 1 liter per 20 km saja, biaya yang diperlukan untuk isi BBM RON 92 ketika bepergian sejauh 500 km ialah Rp310 ribu-318 ribuan.

Harga Jual Kembali

Harga jual kembali alias resale value menjadi perbedaan mobil listrik dan mobil bensin yang terakhir. Setiap mobil pasti mengalami depresiasi alias penurunan nilai setiap tahun, akan tetap banderol mobil listrik diketahui lebih cepat anjlok ketimbang mobil bermesin konvensional.

Sebagai contoh, harga Hyundai Ioniq 5 bekas 2022 saja pada 2025 sudah ada yang Rp399 jutaan. Padahal, harga Hyundai Ioniq 5 baru yang paling murah sejak meluncur pada 2022 sampai sekarang adalah Rp700 jutaan.

Kelebihan-Kekurangan Mobil Listrik dan Mobil Bensin

Perbedaan mobil listrik dan mobil bensin harus diketahui sebelum memutuskan membeli yang mana. Dengan mempelajari perbedaannya, konsumen jadi bisa memahami kelebihan dan keunggulannya.

Kelebihan mobil listrik antara lain adalah punya rasa berkendara lebih asyik serta lebih senyap, nihil emisi gas buang, punya biaya operasional dan perawatan lebih irit.

Sementara itu, kekurangan mobil listrik terletak pada jarak tempuh yang masih memberikan kecemasan, waktu pengecasan lama, ketersediaan infrastruktur belum memadai, plus harga jual kembali anjlok.

Kelebihan mobil bensin untuk sekarang adalah bebas dari range anxiety, waktu pengisian BBM sangat cepat, jaringan infrastruktur SPBU yang komprehensif sampai ke kota-kota kecil, maupun harga jual kembali lebih stabil.

Kekurangan mobil konvensional tentu terkait dengan produksi emisi gas buangnya, juga biaya operasional dan biaya perawatannya yang relatif lebih tinggi. [Xan/YS]

Tag Terkait

perbedaan mobil listrik dan mobil bensin kelebihan mobil listrik Kekurangan Mobil Listrik biaya operasional mobil listrik biaya perawatan mobil listrik

Author

Berita Utama

Berita Populer

Lihat semua »