Indonesia Dirasa Tak Cuma Butuh Banyak Mobil Listrik Murni, tapi juga Mobil Hybrid

Mobil Listrik

TANGERANG – Pasar Indonesia dirasa butuh beragam opsi teknologi kendaraan elektrifikasi, mulai dari mobil hybrid sampai mobil listrik murni (battery electric vehicle/BEV). Meski begitu, perlu ada sokongan insentif yang memadai bagi seluruh teknologi tersebut.

Demikian benang merah yang disampaikan oleh asosiasi maupun para pelaku usaha dalam diskusi bertajuk ‘Membedah Peluang dan Tantangan Elektrifikasi Kendaraan di Indonesia Menjelang 2030’ yang diadakan oleh Indonesia Center of Mobility Studies (ICMS) di Serpong, Tangerang.

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara, dalam pidatonya, menyampaikan kalau pilihan model maupun harga mobil listrik murni sekarang makin beragam. Meski begitu, teknologi ini masih belum didukung infrastruktur yang merata.

“BEV makin laris, tapi kalau ke luar kota bagaimana? Infrastrukturnya belum di semua daerah ada,” ucap dia.

Marketing Planning Division Head PT Toyota Astra Motor (TAM) Resha Kusuma Atmaja, dalam paparannya, menunjukkan kalau pasar kendaraan elektrifikasi dari berbagai teknologi yang mereka istilahkan sebagai ‘xEV’ meningkat pesat sejak 2019.

Sekadar informasi, pada tahun ini terbit insentif dari pemerintah untuk kendaraan elektrifikasi lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 55 Tahun 2019 yang kemudian direvisi menjadi Perpres Nomor 79 Tahun 2023.

Penjualan retail kendaraan elektrifikasi yang terdiri dari mobil hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan mobil listrik murni sejak 2019-2023 terus meningkat dari 690 unit, 1.292 unit, 2.829 unit, 16.439 unit, 65.400 unit.

Pada Januari-Juni 2024, transaksi jual-beli mobil hybrid, PHEV, plus mobil listrik murni secara akumulatif mencapai 41.772 unit. Toyota mengklaim menjadi pemimpin pasar kendaraan elektrifikasi di Indonesia dengan penjualan 19.158 unit dan pangsa pasar 45,8 persen.

“Untuk kontribusi xEV (terhadap pasar mobil nasional—Red) itu dari tahun ke tahun cukup eksponensial kenaikannya. Pada 2019 saja hanya 0,1 persen. Sekarang sudah menjadi 9,6-9,7 persen,” tukas Resha.

Kendati begitu, Resha tak membantah anggapan bahwa insentif untuk mobil hybrid masih tak seroyal insentif untuk mobil listrik murni. Padahal, sumbangan volume terbesar datang dari model-model mobil hybrid.

“Kalau di Toyota, sekitar 90 persenan itu di model-model mobil hybrid,” tukasnya.

Resha pun berharap pemerintah bisa meniru insentif yang diberikan oleh pemerintah Thailand. Mereka memberikan insentif yang cukup besar tak hanya untuk mobil listrik murni, tapi juga mobil hybrid.

“Kita semua punya tujuan yang sama yaitu mereduksi karbon dioksida. Kita bisa lakukan juga seperti di Thailand yang memang insentifnya tak hanya untuk BEV tapi untuk mobil hybrid pun ada,” tandasnya.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah menargetkan populasi 2 juta mobil listrik pada 2030. Jika memperhitungkan penjualan mobil hybrid sampai mobil listrik murni dari 2019-2023, artinya dari 2025 sampai 2030 penjualan kendaraan elektrifikasi secara rata-rata mesti mencapai 300 ribuan unit per tahun. [Xan]

Tag Terkait

Mobil Listrik mobil hybrid insentif mobil listrik insentif mobil hybrid penjualan mobil listrik 2024

Author

Berita Utama

Berita Populer

Lihat semua »