Daya Beli Turun, Mobil Tarikan Leasing karena Kredit Macet Makin Banyak pada 2024
Berita OtomotifJAKARTA – Perusahaan pembiayaan (leasing) merasakan betul adanya penurunan daya beli pada pasar mobil di Indonesia pada 2024 yang menyebabkan penjualan turun cukup jauh. Kredit macet naik dan jumlah mobil tarikan leasing ikut meningkat.
Sekadar gambaran, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil secara retail pada Januari-Oktober 2024 hanya 730.637 unit. Transaksi jual-beli drop 11,5 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Gaikindo sampai harus merevisi target penjualan mobil baru pada 2024 dari 1,1 juta unit menjadi hanya 850 ribu unit.
Senior Executive Vice President Credit and Risk PT Mandiri Utama Finance (MUF) Dapot Sinaga menjelaskan indikator penurunan daya beli di pasar mobil, dari perspektif perusahaan pembiayaan, adalah pemburukan kualitas kredit. Kredit macet alias non-performing loan (NPL) di sektor pembiayaan mobil, menurutnya, mengalami peningkatan sepanjang 2024.
“Di industri pembiayaan (penurunan daya beli) itu terasa sekali. Ilustrasinya, kalau mengalami kredit macet di pembiayaan, mobil akan kami tarik. Nah, dampak (penurunan daya beli) yang kami dapat sekarang adalah semakin banyak mobil yang harus kami tarik yang mungkin usia kreditnya sudah lama. Kreditnya sudah 12 bulan, 24 bulan terus tiba-tiba tak mampu,” ujar Dapot dalam Focus Group Discussion ‘Mengakhiri Era 1 Million Trap, Menyongsong Era Rendah Emisi’ pada Rabu (4/12/2024) sore di Jakarta.
“Itu dampak langsung dari daya beli masyarakat yang menurun, sehingga mungkin uang di kantong mereka bukan untuk mencicil (mobil) dulu tapi untuk kebutuhan lebih pokok,” lanjutnya.
Kredit macet, sambungnya, banyak terjadi di mobil-mobil segmen Rp300 juta ke bawah. Adapun kredit mobil untuk segmen D ke atas yang harganya di atas Rp700 juta sampai miliaran rupiah terbilang aman.
“Kategori yang paling terkena dampak adalah konsumen di segmen mobil Rp200-300 juta. Mereka yang mungkin pendapatan bulanannya Rp5-10 juta dan disisihkan 20-30 persennya buat cicilan. Nah, uang yang tadinya buat mencicil itu sekarang sudah terpakai buat hidup. Kalau kami melihat di data internal kami, segmen di atas Rp700 juta aman tentram,” jelas dia.
Kondisi inilah, terang Dapot, yang membuat MUF beserta perusahaan-perusahaan pembiayaan lain melakukan reposisi dan pengetatan kredit mobil. Padahal, dari sisi permintaan di diler-diler, sebenarnya masih cukup banyak yang ingin membeli mobil.
“Permintaan banyak. Sekarang, di diler itu permintaannya masih luar biasa. Namun, saat kami seleksi, slipnya hancur, slipnya jelek dan mereka itu biasanya masyarakat menengah ke bawah yang biasanya mau beli Agya, Calya. Padahal segmen tersebut ‘dagingnya’ kami,” tandas dia. [Xan]