Toyota Putar Otak Pikirkan Efisiensi Gara-gara Dollar AS

Berita Otomotif

Toyota Putar Otak Pikirkan Efisiensi Gara-gara Dollar AS

JAKARTA – Toyota harus putar otak memikirkan efisiensi produksi kendaraan di pabrik mereka, gara-gara penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah yang makin membuat resah pelaku industri.

Sejak awal tahun hingga kini, depresiasi kurs rupiah terhadap dollar AS masih terjadi, bahkan makin tajam. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Sport Dollar Rate (Jisdor) per 5 September, 1 dollar AS sudah setara dengan Rp 14.927. Padahal, pada akhir 2017, kurs masih sekitar Rp 13.400 per dollar AS.

Edward Otto Kanter, Wakil Presiden Direktur PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), mengaku untuk sementara ini anjloknya kurs rupiah terhadap dollar AS belum berpengaruh terhadap ongkos produksi mereka. Namun, mereka tetap harus bersiaga untuk jangka menengah maupun jangka panjang.

Apalagi, menurut Edward, secara rata-rata masih ada impor bahan baku mentah untuk perakitan komponen kendaraan. Adapun tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mobil-mobil Toyota yang sudah dirakit di dalam negeri, berdasarkan data TMMIN, berkisar dari 75 – 94 persen, tergantung model.

“Kalau harga material impornya naik, ya, (ongkos produksi) naik dong,” ujar dia usai seremoni ekspor sejuta unit Toyota, Rabu (5/9/2018) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Warih Andang Tjahjono, Presiden Direktur TMMIN, menjelaskan bahwa true localisation atau komponen yang sudah benar-benar menggunakan bahan baku lokal secara rata-rata masih 70 persen. Toyota ingin terus meningkatkan true localisation di pabrik mereka.

“Target kami pada 2020, dua tahun dari sekarang, true localisation sudah 80 persen,” jelas Warih.

Efisiensi
Bob Azzam, Director Administration, Corporate, and External Affairs TMMIN menjelaskan bahwa pihaknya kini memikirkan banyak hal untuk efisiensi. Menurutnya, masih banyak ruang yang bisa dimanfaatkan untuk meminimalisir biaya produksi dan memaksimalkan produktivitas.

“Misalnya mesin produksi dalam setahun kadang mati, kadang hidup. Aspek itu kalau kami bisa kurangi saja bisa mungkin bisa menyerap sampai 10 persen (ongkos produksi), lho. Lalu efisiensi dalam hal logistik, persediaan, kemudian quality control,” tukasnya.

Warih menambahkan penambahan true localisation merupakan salah satu cara untuk melakukan efisiensi serta mengurangi ketergantung terhadap kurs dollar AS. Ekspor pun bakal terus digeber.

“Kami harus terus berusaha agar TKDN meningkat, impor material tidak banyak, destinasi ekspor ditambah, negara-negara tujuan yang sudah ada ditingkatkan jumlahnya,” tandas dia.

Toyota pada 2018 menargetkan ekspor 217 ribu unit, naik sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tercapai, pabrikan asal Jepang ini akan mencapai rekor ekspor baru di Indonesia. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar