Toyota Akui Persaingan Akan Makin Ketat dan Berdampak ke Harga

Berita Otomotif

Toyota Akui Persaingan Akan Makin Ketat dan Berdampak ke Harga

JAKARTA – Toyota menilai persaingan di Indonesia akan makin ketat dan salah satu dampaknya adalah pemosisian harga (pricing positioning) mobil-mobil di pasar. Mereka sendiri tetap optimistis menghadapi hal itu.

Anton Jimmi Suwandy, Direktur Pemasaran PT. Toyota Astra Motor (TAM), menilai sikut-sikutan di pasar mobil nasional bakal makin keras. Kompetisi akan berdatangan terus.

Ia mencontohkan langkah Hyundai yang mulai membangun pabrik sekaligus basis produksi global di Indonesia pada akhir 2019 dan selesai pada 2021. Kia yang sempat tertatih-tatih pun mulai bergerak kembali usai diambil alih oleh Indomobil Group.

“Jadi, kompetisi di Indonesia semakin lama semakin ketat yang buat konsumen bagus karena pilihan semakin banyak. Kemudian model-model akan semakin menarik. Menurut saya enggak masalah,” jelas Anton.

Sebagai informasi, pemain-pemain baru juga telah datang ke Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Ada dua merek China yang langsung membangun pabrik yaitu Wuling dan Dongfeng Sokon (DFSK). Ada pula yang asal India, Mahindra, sejak semester kedua 2019.

Kedua merek China berjualan sejak 2019 dan bisa mencuri ‘kue penjualan’ di pasar yang sangat didominasi merek-merek Jepang secara hampir absolut, berkat strategi memberikan harga cukup jauh berbeda tapi memberikan fitur lebih banyak. Pada akhir 2018 dengan total wholesales 1,15 juta unit, pangsa pasar Wuling plus DFSK secara total lebih dari 1 persen, sedangkan merek-merek Jepang 97 persen. Sisanya baru dibagi ke merek-merek lain.

Merek-merek baru dikabarkan bersiap datang. Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), ada merek China lain, BYD, maupun merek dari Eropa Timur yang sedang mempersiapkan diri masuk.

Anton mengakui harga-harga mobil di pasar akan terpengaruh oleh persaingan. Tapi, ini hanya salah satu dampak karena ada faktor-faktor lain yang menjadi pertimbangan konsumen Indonesia dalam membeli mobil.

“Pricing (strategi harga) itu hanya salah satunya karena kalau di Toyota kami bicara lifetime value (nilai seumur hidup). Jadi, kalau orang membeli mobil tak hanya di awal tapi bagaimana servisnya, harga jual kembalinya, durabilitas mobil itu sendiri. Jadi kami masih yakin produk Toyota masih bisa diterima dan ini kenapa di tengah pasar yang sedang sulit ini pangsa pasar kami masih naik. Kami jual lifetime value. Enggak cuma produk,” paparnya.

Menurut Toyota di dalam Year End Gathering, penjualan mobil di Indonesia secara wholesales pada Januari – November turun 12 persen dibanding periode yang sama sebelumnya. Tapi, Toyota hanya turun 6 persen sehingga pangsa pasar mereka naik dari 30 persen tahun lalu menjadi 32 persen. Mereka tidak menyebut volume dan Gaikindo pun belum merilis data hingga November.

Pasar di penghujung tahun ini mereka perkirakan turun menjadi sekitar 1,030 juta unit. Toyota optimistis tetap mempertahankan pangsa pasar 32 persen itu. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar