SPBG Tidak Berkembang, Transjakarta Alami Kemunduran Kembali Gunakan Bus Diesel

Berita Otomotif

SPBG Tidak Berkembang, Transjakarta Alami Kemunduran Kembali Gunakan Bus Diesel

JAKARTA - Bus bermesin diesel dominasi armada Transjakarta saat ini, bus BBG kalah pamor karena suplay gas yang bermasalah.

Seperti kita ketahui bersama, semangat Transjakarta di awal kemunculannya pada 2004 adalah mendukung program langit biru. Untuk mewujudkan itu, aramada bus Transjakarta di awal kemunculannya banyak menggunakan BBG.

Namun seiring dengan berjalannya waktu atau tepatnya mulai 2010 - 2014, suplay gas disebut banyak bermasalah. Menurut Yoga Adiwinarto, Plt Dirut TransJakarta pertumbuhan Stasiun Bahan Bakar Gas (SPBG) atau infrastruktur penunjang tidak banyak dan sering mengalami kerusakan.

"Niat menunjang program langit biru memang bagus tapi infrastruktur kita memang agak kurang jadi contohnya dilokasi-lokasi stasiun pengisian pertumbuhannya tidak banyak. Jadi bahkan beberapa minggu lalu bahkan beberapa bulan itu sering kami kesulitan, kalau ada 1 SPBG rusak atau tutup atau dalam masa pemeliharaan itu mengganggu operasional kami," jelas Yoga saat ditemui di acara launching Bus Scania K250IB-4x2 bermesin diesel dan akan menjadi armada Transjakarta.

Ditanya soal support dari Pertamina dan PGN, Yoga mengatakan bahwa hal tersebut sudah diberikan namun masih dirasa kurang. Ini juga terkait dengan penggunaan BBG yang belum luas untuk masyarakat khususnya kendaraan pribadi.

"Support ada cuma kecepatan mereka tadi itu kan (soal kurangnya infrastruktur termasuk SPBG). Saat ini  hanya kami dan perusahaan taksi yang konsisten pakai BBG. Sementara untuk mobil pribadi volumemnya belum terlalu banyak, jadi ketika mereka mau investasi jadi mikir-mikir gimana skala ekonominya masuk. Sementara jika kita ngomongin SPBU kan BBM (diesel) itu siapa pun bisa gunakan," jelas Yoga.

Yoga selanjutnya menambahkan bahwa pihaknya kemudian melakukan mitigasi. Ini dilakukan demi mencari jalan keluar terbaik demi melayani dan menjaga lancarnya perjalanan warga ibukota.

"Jadi memang untuk saat ini ya masih bisa dibilang mau gak mau kita available adalah bus mesin diesel. Sebenernya kalau kita bicara penghematan memang lebih hemat murah gunakan BBG. Tapi ya itu tadi dari sisi suplay itu sangat-sangat susah dan dari sisi fleksibelitasnya," kata Yoga.

Karena hal ini pada 2015, pihak Transjakarta memutuskan untuk mencamput armada bermesin diesel dengan gas. Saat ini komposisinya bus bermesin diesel mendominasi dengan 70 persen sementara BBG 30 persen.

Bus Listrik Jadi Masa Depan Moda Transportasi Ibukota

Transjakarta sendiri punya proyeksi di masa depan yakni mengganti seluruh armadanya dengan bus listrik. Ini tentunya jika teknologi listrik sudah benar-benar masuk untuk kendaraan khususnya bus, cita-cita support langit biru menjadi lebih sempurna.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri sudah membuat komitmen di tahun 2025 50 persen armada Transjakarta menggunakan bus listrik. Hal ini sudah disampaikan diberagam kesempatan termasuk forum internasional.

"Kami menangkap respon itu dengan sebuah mandat yang diberikan kepada kami. Roadmapnya sendiri sedang disusun dan dipastikan pada 2030 seluruh armada gunakan bus listrik," tutup Yoga. [Ari]



Krisna Arie

Krisna Arie

Senang semua benda bermesin dan beroda sejak duduk di bangku sekolah dan memulai bekerja di media dengan segmen otomotif sejak tahun 2002. Pria sederhana ini selalu percaya pekerjaan akan lebih sempurna jika didasari dengan passion.


Berita Utama


Komentar