Renault Intip Peluang Bawa 2 Mobil Listrik ke Indonesia

Berita Otomotif

Renault Intip Peluang Bawa 2 Mobil Listrik ke Indonesia

JAKARTA - Renault ternyata tertarik juga ‘bermain’ mobil listrik di Indonesia di bawah agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang baru. Ada dua model yang menurut mereka bisa dibawa ke sini.

Davy J. Tuilan, Chief Operating Officer (COO) PT. Maxindo Renault Indonesia (MRI), mengatakan pihaknya juga menanti-nanti regulasi low carbon emission vehicle (LCEV). Peraturan ini sendiri nantinya mengatur insentif pajak, di antaranya bea masuk plus PPnBM, bagi mobil-mobil ramah lingkungan seperti mobil hybrid dan mobil listrik sehingga harganya bisa lebih terjangkau.

“Enggak cuma Renault yang menunggu. Banyak ini,” tandasnya merespons pertanyaan Mobil123.com dalam Media Gathering beberapa waktu lalu di Jakarta.

Ia mengatakan pabrikan asal Prancis ini punya dua model mobil listrik yang sama-sama memungkinkan dijual di Tanah Air. Selain Renault Zoe, ada juga Renault Twizy. Keduanya murni mengandalkan baterai lithium-ion plus motor penggerak.

“Kalau Twizy itu brand carrier. Kami bisa manfaatkannya untuk meningkatkan citra merek Renault di Indonesia. Model yang mass (pendulang volume) adalah Zoe. Itu salah satu mobil listrik terlaris Eropa saat ini karena enggak terlalu besar, bentuknya compact, dan harganya terjangkau,” ujar Davy.

Kedua model ini menurutnya bisa diboyong ke Indonesia dengan skema impor utuh (Completely Built-Up/CBU) dengan persiapan yang tak terlalu lama, asalkan aturannya ada. Renault, sambungnya, sangat termotivasi untuk berpartisipasi dalam program LCEV yang kabarnya kemungkinan bisa terbit pada Juli 2019.

Manfaatkan Aliansi
Regulasi LCEV sendiri konon bakal mewajibkan perakitan lokal mobil ramah lingkungan yang mendapat insentif. Renault, yang belum punya fasilitas perakitan di Indonesia, mengatakan bisa memanfaatkan pabrik-pabrik yang dimiliki aliansi mereka di sini.

Seperti diketahui, Renault menjalin aliansi global dengan Nissan dan Mitsubishi. Kebetulan, keduanya punya pabrik di Indonesia.

“Kalau merakit mobil listrik kan tidak hanya harus melihat PPnBM tapi juga tax holiday untuk investasi. Jadi, ada aspek-aspek lebih kompleks yang harus kami pikirkan,” pungkas dia.

Di samping insentif pajak bagi mobil hybrid dan listrik, aturan LCEV juga mengatur pula bagi teknologi-teknologi lain. Pemerintah juga bakal melanjutkan program low carbon emission vehicle (LCEV) maupun flexi engine yang berbahan bakar bio (campuran antara bahan bakar minyak dengan bahan nabati). [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar