Pajak Mobil di Indonesia Disebut Lebih Banyak daripada Negara Tetangga

Berita Otomotif

Pajak Mobil di Indonesia Disebut Lebih Banyak daripada Negara Tetangga

JAKARTA - Pajak mobil baru di Indonesia disebut lebih beragam daripada negara lain di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, pabrikan otomotif menyambut wacana Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 0 persen permanen yang sedang dipelajari pemerintah.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azzam membandingkan pajak yang dibebankan kepada pembeli mobil di Nusantara dengan di Thailand. Menurut dia, konsumen di Tanah Air harus membayar berbagai jenis pajak ketika membeli dari diler, sehingga berpengaruh pada harga jual.

“Mereka (Thailand) punya pajak kendaraan tapi hanya satu yaitu pajak pemerintah pusat. Kalau di kita, kan, ada dua kategori. PPnBM untuk pemerintah pusat dan bea balik nama bagi pemerintah daerah,” ujar dia dalam Virtual End Year Gathering beberapa waktu lalu.

Padahal, menurut Bob, berkurangnya pajak untuk konsumen akan mereduksi harga jual, kemudian memicu kenaikan penjualan mobil. Pendapatan pemerintah dari pajak konsumen memang berkurang, tapi digantikan oleh pemasukan pajak dari pabrikan yang bertambah.

Hal ini sudah terbukti dari kebijakan insentif PPnBM mobil baru yang berlangsung pada Maret-Desember 2021, untuk mendorong pasar serta industri otomotif di tengah pandemi Covid-19.

Stimulus tersebut diberikan kepada mobil-mobil buatan dalam negeri dengan komponen lokal minimal 60 persen.

“Sewaktu pemerintah meluncurkan insentif PPnBM itu, kan, seolah-olah pajak yang dibayarkan akan berkurang. Tapi, kenyataannya, untuk kasus Toyota sendiri pajak yang kami bayarkan pada 2021 dibandingkan 2020 meningkat lebih dari 50 persen,” aku Bob.

“Jadi tidak selalu insentif PPnBM itu akan mengurangi penerimaan negara. Justru meningkatkan penerimaan negara karena muncul multiplier effect dari industri. Ini yang jadi pelajaran berharga bagi kita,” lanjutnya.

Menilik data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil baru secara wholesales pada Januari-November 2021 melonjak 66,5 persen jika dikomparasi dengan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Volumenya menjadi 790.524 unit.

Adapun secara retail, penjualan melesat 49,5 persen yoy menjadi 761.861 unit.

Pasar tahun ini diproyeksikan 'hanya' 800-850 ribu unit. Volumenya belum akan kembali ke satu juta unit, seperti sebelum pandemi (2019).

Para pelaku industri, dibantu Kementerian Perindustrian, sedang mengajukan dua usul kepada Kementerian Keuangan. Pertama adalah perpanjangan insentif PPnBM pada 2022.

Usul kedua ialah pemberian PPnBM 0 persen permanen kepada mobil-mobil rakitan dalam negeri dengan komponen lokal 80 persen ke atas.

“Harapannya, dengan adanya PPnBM 0 persen permanen, pasar bisa menjadi lebih besar lagi. Ekonomi bisa lebih bergerak karena ada multiplier effect, employment (penyerapan tenaga kerja) juga akan jadi lebih baik,” nilai Bob. [Xan]

>>>>> Klik link ini untuk melihat harga mobil bekas berkualitas <<<<<<<



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar