Pabrik Mobil di Indonesia Diminta Lebih Gunakan Robot, Karyawan Terancam?

Berita Otomotif

Pabrik Mobil di Indonesia Diminta Lebih Gunakan Robot, Karyawan Terancam?

JAKARTA - Teknologi robotik diprediksi akan makin banyak digunakan untuk membuat kendaraan di Indonesia. Kebutuhan pabrik otomotif pun bergeser dari tenaga kerja berkompetensi rendah menjadi yang ‘melek’ teknologi.

Hal ini merupakan kesimpulan dari Diskusi Pintar Forum Wartawan Otomotif (Forwot) bertemakan ‘Peningkatan Daya Saing Industri Otomotif Menuju Era Industri 4.0’ pada Kamis (15/8/2019) di Jakarta. Diskusi menghadirkan tiga pembicara yaitu Pengamat Otomotif Agus Tjahajana Wirakusumah, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara, dan GM for South East Asia and Oceania Universal Robots Sakari Kuikka.

Sebagai informasi, Industry 4.0 adalah istilah bagi penggunaan teknologi robotik yang lebih luas dan dipadukan dengan Internet of Things (IoT) dalam industri manufaktur. Pemerintah sudah menetapkan bahwa industri otomotif ialah satu dari lima sektor yang diprioritaskan untuk percepatan pengaplikasian Industry 4.0 untuk mendorong daya saing industri, produksi, dan ekspor.

Agus mengatakan bahwa pengaplikasian Industry 4.0 punya banyak keuntungan bagi pabrikan. Di antaranya adalah perakitan bisa lebih cepat, fleksibilitas produksi menjadi lebih baik, biaya produksi lebih efisien, hingga keuntungan meningkat.

Namun, ada pergeseran kebutuhan sumber daya manusia. Inilah yang menjadi efek samping yang mesti diperhatikan.

“Bakal ada pergeseran (kebutuhan sumber daya manusia). Orang yang biasanya memutar obeng saja nantinya harus bisa melakukan pemrograman (programming). Ke depannya, kita harus punya (kompetensi) sumber daya manusia yang beda dari sekarang,” kata mantan Direktur Jendral Industri Logam, Mesin, Elektronik, dan Aneka Kementerian Perindustrian dan Perdagangan pada 1998 - 2002 itu.

Kukuh menjelaskan bahwa jumlah tenaga kerja di Industri otomotif Indonesia saat ini adalah 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung (indirect labours) serta 350 ribu tenaga kerja langsung (direct labours). Beberapa pabrikan sudah mulai menerapkan teknologi Industry 4.0.

“Terutama pabrikan-pabrikan otomotif baru,” tandasnya.

Pengembangan SDM
Menanggapi tantangan ini, Kuikka berkaca pada kasus Singapura. Di sana, rasio pengaplikasian teknologi robotik sudah tinggi yaitu 658 robot per 10 ribu karyawan di seluruh industri.

Ini di atas rata-rata dunia yaitu 85 robot per 10 ribu karyawan.

“Indonesia baru 5 robot per 10 ribu karyawan,” tandasnya.

Hal ini bisa terjadi secara mulus di Singapura karena ada perhatian khusus dari pemerintahnya soal reedukasi tenaga kerja. Ada kerja sama antara Serikat Pekerja, korporasi, dengan pemerintah.

Kukuh mengatakan pemerintah sudah berencana memberikan insentif-insentif bagi pabrikan yang mengadakan pusat pendidikan vokasi. Di antaranya adalah Fiscal Super Tax Deduction (pengurangan penghasilan kena pajak hingga 200 persen dari total biaya yang dikeluarkan perusahaan terhadap pelaksanaan program vokasi). [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Support