MPV Murah Renault Triber Belum Terlalu Laku, Ini Kata Pengamat

Berita Otomotif

MPV Murah Renault Triber Belum Terlalu Laku, Ini Kata Pengamat

JAKARTA – Renault Triber merupakan multi purpose vehicle (MPV) murah seharga Rp 100 jutaan. Namun, penjualannya bagai bumi dan langit dengan dua pesaingnya yaitu Toyota Calya dan Daihatsu Sigra.

Harga ketiganya memang satu kisaran. Berdasarkan penelusuran Mobil123.com, banderol on-the-road (OTR) Jakarta Triber per November 2020 Rp 166,9 – 184,9 juta.

Calya, di sisi lain, Rp 144,55 – 165,85 juta. Adapun Sigra dimulai dari Rp 119,5 – 162,25 juta.

Di antara ketiganya, penjualan Triber adalah yang paling sedikit. Selisihnya luar biasanya banyak jika dikomparasi dengan Calya dan Sigra.


Berdasarkan data Gaikindo Januari – September 2020, wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) dari model yang diperkenalkan pada GIIAS 2019 ini hanya 78 unit. Sementara itu Calya dan Sigra masing-masing membukukan volume 17.131 unit serta 19.764 unit.

Triber, menurut Pengamat Otomotif Bebin Juana, punya pekerjaan rumah yang amat banyak dan berat sebelum mampu berbicara banyak di pasar otomotif nasional meskipun nilai jualnya memikat. Selain permasalahan jumlah jaringan penjualan dan purnajual, Renault perlu membangun dan menanamkan citra merek (brand image) ke target konsumen dan ini perlu strategi pemasaran yang luar biasa konsisten dengan anggaran tak sedikit.

“Konsumen di kelas itu, kan, konsumen yang cari aman,” ucap veteran industri otomotif Tanah Air tersebut ketika dihubungi Mobil123.com pada Kamis (5/11/2020).


Tipikal konsumen mobil – mobil murah amat memikirkan berbagai kemudahan yang didapat dari merek kendaraan yang ia beli. Di antaranya adalah harga jual kembali.

“Beli belum, sudah memikirkan jual,” tegasnya.

Porsi konsumen mobil murah di Tanah Air juga amat banyak. Mereka tersebar hingga ke daerah – daerah kecil sehingga ketersediaan jaringan penjualan dan purnajual hingga ke area – area tersebut menjadi amat penting.

“Jadi untuk masuk ke pasarnya mobil – mobil massal yang betul – betul besar sekali ini tidak mudah. Jaringan akan berperan besar dan brand image-nya ini, nih, sudah masuk atau belum? Kalau belum jadi top of mind, susah. Saat ngobrol di warung, halte bus, di mana – mana, yang disebut, ya, itu – itu lagi mereknya,” tukas dia.


Merek China Wuling, sebut Bebin, menjadi contoh bagus. Wuling ia nilai dapat dengan cepat menyebar jaringan penjualan dan purnajual dan menjalankan strategi pemasaran teramat konsisten hingga bisa diterima konsumen di segmen yang amat dikuasai merek – merek Jepang.

“Waktu itu saya perkirakan mereka butuh waktu 5 – 7 tahun dan hrs konsisten. Ternyata 3 – 5 tahun sudah masuk dan diperhitungkan oleh pasar. Itu contoh konsistensi strategi pemasaran yang membuahkan hasil,” tutupnya. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar