Calon LCGC Hyundai Siap Tantang Toyota Agya atau Calya

Berita Otomotif

Calon LCGC Hyundai Siap Tantang Toyota Agya atau Calya

JAKARTA – Hyundai mengungkapkan bahwa mobil Rp 100 jutaan mereka yang akan meluncur di Indonesia beberapa tahun lagi mungkin akan ada di segmen low cost green car (LCGC), seperti Toyota Agya atau Calya.

Hyundai saat ini sedang melakukan finalisasi pabrik baru di Indonesia. Pabrikan asal Korea Selatan itu berencana meluncurkan mobil berharga di bawah Rp 150 juta di negeri ini dalam satu hingga dua tahun ke depan. Kandidat-kandidat produknya masih dikembangkan Hyundai India, salah satunya adalah city car Santro

Presiden Direktur PT. Hyundai Mobil Indonesia (HMI) Mukiat Sutikno mengakui pihaknya mengintip peluang memasukkan mobil tersebut di segmen LCGC. Sekarang mereka masih menunggu kebijakan baru pemerintah mengenai revisi pajak berbagai kendaraan yang hingga detik ini masih digodok.

Pasalnya, di dalam kebijakan itu ada wacana pengubahan pajak sedan dan pembedaan pajak kendaraan berdasarkan emisi gas buangnya. Ada pula kemungkinan syarat mendapatkan insentif pajak pada segmen LCGC berubah.

“Perbedaannya nanti ada di segi perpajakan. Lebih kepada profitabilitas kami,” ujarnya, akhir April di JIExpo Kemayoran, sembari mengatakan bahwa pihaknya tetap menargetkan harga jual di bawah Rp150 juta walaupun mobil murah Hyundai kelak tak ada di segmen LCGC.

Sebagai informasi, segmen LCGC terbentuk pada 2013 karena kemauan pemerintah menghadirkan mobil yang hemat konsumsi bahan bakarnya sehingga relatif ramah lingkungan. Saat ini, segmen tersebut diisi Toyota Agya dan Calya, Daihatsu Ayla dan Sigra, Datsun Go Panca dan Go+ Panca, Suzuki Karimun Wagon R, dan Honda Brio Satya.

Mobil-mobil LCGC mendapatkan insentif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) 0 persen. Syarat-syarat untuk meraih insentif itu antara lain perakitan harus dilakukan di Indonesia, memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 85 persen dalam lima tahun, plus konsumsi bahan bakar minyak (BBM) minimal 20 km/liter.

Mukiat sendiri berharap insentif pajak untuk LCGC nantinya tidak lagi terlalu mengacu pada TKDN, tapi juga mempertimbangkan produksi emisi gas buang. Pasalnya, dengan TKDN hingga 80-an persen, Hyundai mesti benar-benar menghitung dengan lebih cermat.

“Tentunya kami juga berpikir makin tinggi TKDN makin bagus. Tapi investasi juga makin besar. Itu yg paling utama. Risiko yang kami harus pikirkan sangat hati-hati adalah sudah investasi tapi penjualan enggak penuhi ekspektasi dan minusnya besar sekali,” papar dia.

Di samping itu, dengan kondisi pasar otomotif Indonesia yang 98 persen di antaranya dikuasai merek-merek Jepang, mencari pemasok komponen untuk Hyundai diakui merupakan satu tantangan tersendiri. Merek-merek mobil Korea Selatan, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Cuma berkontribusi 0,2 persen dari pasar pada 2017.

“Karena enggak bisa komponen untuk Santro dipakai juga misalnya di Brio. Enggak bisa. Kalau beberapa suku cadang Santro mungkin saja nanti bisa juga untuk Hyundai i10 baru mungkin,” tandas Mukiat. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di sebuah harian umum nasional dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Support
Chat Support
Support Support
0 Support
Support
Chat Aktif0
Diarsipkan
Hapuskan chat?
Chat
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual