Mobil Listrik Memang Bebas Emisi Tetapi Tetap jadi Sumber Polusi yang Tinggi

Berita Otomotif

Mobil Listrik Memang Bebas Emisi Tetapi Tetap jadi Sumber Polusi yang Tinggi

LONDON - Mobil listrik ternyata masih menjadi sumber polusi, memang bukan datang dari knalpot atau emisi gas buang tapi disinyalir lebih berbahaya dan datang dari penggunanan ban serta rem.

Seluruh negara di dunia selama bertahun-tahun fokus pada pembatasan emisi gas buang kendaraan. Ini membuat pabrikan berlomba-lomba untuk menciptakan alternatif sumber penggerak kendaraan, seperti melakukan pengembangan ekstra pada kendaraan bertenaga listrik.

Kendaraan listrik akhirnya disebut-sebut dan dipercaya sebagai alat transportasi masa depan yang nir emisi atau bebas polusi. Namun demikian hal tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar jika dilihat dari sisi lain.

Emissions Analytics, badan independen spesiais melakukan mengujian dan pengukuran ilmiah soal emisi serta efisiensi BBM kendaraan asal Inggris memiliki temuan lain. Dan memang mobil listrik tidak memiliki gas buang, namun menjadi sumber polusi lain yang datang dari ban juga rem.

Tingkat keausan ban sendiri disebut memiliki polusi partikel di udara 1.000 kali lebih buruk dari yang dikeluarkan oleh pipa knalpot. Mobil123.com juga telah mengulas soal mobil listrik yang disebut punya konsumsi ban tergolong boros menurut data Zohr, perusahaan yang bergerak dibidang jual beli ban di Amerika Serikat. Perusahaan ini menyebutkan bahwa mobil listrik punya rasio pergantian ban lebih sering 30 persen dibandingkan mobil konvensional. 

Data yang diambil oleh Emission Analytics adalah berasal dari pengujian tingkat keausan ban awal pada sebuah mobil keluarga. Ditemukan dari mobil tersebut didapat  Non-Exhaust Emissions (NEE) atau partikel yang dilepaskan ke udara dari keausan ban, rem, permukaan jalan dan resuspensi debu jalan selama kendaraan bergerak tergolong tinggi yakni memancarkan 5.8 gram per kilometer.

Angka ini lebih besar sekitar 1.289 kali dari batas emisi gas buang dengan 4.5 milligrams per kilometer sesuai standard Eropa. Disebutkan juga dalam catatan penelitian, bahwa jumlah emisi NEE mungkin akan lebih tinggi jika ban yang digunakan berkualitas rendah, mobil melewati jalan kasar seperti melewati jalan berlubang.

Temuan lainnya bahwa partikel partikel logam dari bantalan rem juga menimbulkan polusi yang sedikit. Disebutkan bahwa partikelnya mirip dengan yang dikeluarkan knalpot mesin diesel, bisa menyebabkan peradangan dan infeksi saluran napas serta komplikasi lainnya. 

Richard Lofthouse, peneliti senior Emission Analytics menyatakan bahwa sudah waktunya untuk mempertimbangkan tidak hanya apa yang keluar dari knalpot kendaraan. Tetapi lebih jauh juga perlu diperhatikan polusi partikel dari keausan ban dan rem.

"Yang lebih menakutkan adalah bahwa sementara emisi gas buang telah diatur dengan ketat selama bertahun-tahun. Sementara keausan ban benar-benar tidak diatur dan dengan meningkatnya pertumbuhan kendaraan termasuk mobil listrik bertenaga baterai serta mobil-mobil sekelas SUV menjadikan emisi non-gas buang adalah masalah yang sangat serius," jelas Richard.

Hasil penelitian ini juga memperkuat apa yang telah di teliti oleh Georgia Institute of Technology pada 2017. Ditemukan bahwa logam-logam halus yang dipancarkan dari rem dan ban bergabung dengan asam sulfat di atmosfer untuk menghasilkan aerosol beracun serta larut. Mereka berkesimpulan tidak ada kendaraan tanpa emisi.

Sampai hari ini belum ada undang-undang yang mengatur atau membatasi NEE. Padahal semakin hari NEE menimbulkan keprihatinan besar terhadap kualitas udara.

"Sudah waktunya kita memperbaharui peraturan usang yang hanya membatasi keluaran emisi. Sarannya juga kesadaraan pemilik kendaran untuk menggunakan ban berkualitas tinggi untuk menjaga emisi non-knalpot. Jangka panjang industri otomotif mungkin perlu menemukan cara untuk menurunkan berat kendaraan," himbau Nick Molden, CEO Emissions Analytics. [Ari]

 



Krisna Arie

Krisna Arie

Senang semua benda bermesin dan beroda sejak duduk di bangku sekolah dan memulai bekerja di media dengan segmen otomotif sejak tahun 2002. Pria sederhana ini selalu percaya pekerjaan akan lebih sempurna jika didasari dengan passion.


Berita Utama


Komentar