Mercedes-Benz Tak Naikkan Harga Sejak Februari Meski Rupiah Ambruk

Berita Otomotif

Mercedes-Benz Tak Naikkan Harga Sejak Februari Meski Rupiah Ambruk

TANGERANG – Mercedes-Benz mengaku masih kuat menahan harga walaupun nilai tukar rupiah terhadap dollar AS makin terpuruk sejak awal tahun hingga kini.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), 1 dollar AS per Kamis (11/10/2018) setara Rp 15.253. Pabrikan-pabrikan otomotif banyak yang sudah menaikkan harga, seperti dilakukan oleh Toyota baru-baru ini.

Namun, Mercedes-Benz sama sekali belum menaikkan harga. Hari Arifianto, Deputy Director Marketing Communication PT. Mercedes-Benz Distribution Indonesia, menjelaskan banderol mobil-mobil mereka masih sama sejak Februari kemarin.

Ia menerangkan sebagian besar transaksi luar negeri Mercedes-Benz memang tidak menggunakan dollar AS, melainkan euro seperti BMW. Transaksi dengan dollar AS hanya dilakukan dengan vendor atau pihak ketiga. Namun, kurs rupiah terhadap euro pun saat ini sebenarnya juga terpengaruh hingga melebihi asumsi awal mereka.

“Sepanjang tahun kami ada rentang fluktuasi nilai tukar. Selama belum melewati rentang itu, kami masih berusaha menahan agar tidak ada perubahan harga. Tapi kalau sudah melewati buffer yang ditentukan mau tak mau harus disesuaikan,” tandasnya menjawab pertanyaan Mobil123.com ketika diwawancarai di Serpong, Tangerang usai peresmian dua dealer hasil kerja sama dengan Pro Motor.

Sejauh ini, menurut Hari, fluktuasi kurs rupiah masih dalam taraf aman hingga kini. Mercedes-Benz bahkan tidak melakukan efisiensi operasi di Indonesia.

“Layanan ke pelanggan juga masih sama. Bahkan kami menerbitkan layanan terbaru untuk charging point and exclusive parking. Di Plaza Indonesia pun free of charge. Jadi kami ingin memaksimalkan pelayanan pelanggan terutama di kondisi sulit,” pungkas dia.

Satu faktor lain yang membuat ruang gerak Mercedes-Benz lebih leluasa adalah banyaknya model yang sudah diproduksi secara lokal (Completely Knock-Down/CKD). Saat ini ada enam model yang telah dirakit di pabrik mereka di Wanaherang, Bogor.

“Kebetulan 80 persen kendaraan yang dijual di Indonesia sudah CKD, jauh lebih banyak dibandingkan CBU. CBU berkapasitas mesin di atas 3.000 cc bahkan mungkin kontribusinya cuma sekitar 3 persen,” tukas Hari. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar