Masih Satu Aliansi, Nissan Justru Ingin Jaga Jarak dari Renault

Berita Otomotif

Masih Satu Aliansi, Nissan Justru Ingin Jaga Jarak dari Renault

YOKOHAMA – Nissan mengakui vitalnya menjaga aliansi dengan Renault. Akan tetapi, mereka memilih untuk menjaga jarak dengan sang rekan.

Sekadar mengingatkan, Nissan – Renault menjalin aliansi sejak 1999, setelah saham dari merek yang disebutkan pertama kali diakuisisi oleh pabrikan otomotif asal Prancis tersebut. Bertahun-tahun aliansi keduanya terjalin dan bahkan bertambah lagi anggotanya yaitu Mitsubishi sebagai anggota paling muda sejak 2016.

Akan tetapi, hubungan Nissan – Renault kemudian meregang setelah wacana merger total oleh orang nomor satu aliansi, Carlos Ghosn, diikuti oleh penangkapan dirinya oleh Kepolisian Jepang tahun lalu atas dugaan penggelapan. Penangkapan Ghosn sekaligus mengungkap ketidakpuasaan Nissan terhadap posisi dan daya tawar mereka di dalam aliansi.

Penjualan Nissan sendiri beberapa tahun belakangan sedang menurun. Makoto Uchida selaku Chief Executive Officer Nissan Motor Corporation mengatakan pihaknya sedang menyusun strategi untuk mengembalikan performa pabrikan asal Jepang ini. Kolaborasi dengan anggota aliansi mereka Renault ia akui amat diperlukan.

“Aliansi berperan penting untuk menggapai tujuan kami. Kami perlu melihat apa yang yang bisa bekerja di dalam aliansi, apa yang tidak, lalu memutuskan bagaimana kami melangkah maju,” ucap CEO baru ini.

Nissan, menurut Uchida, telah menikmati pertumbuhan bertahun-tahun berkat terjalinnya aliansi dengan Renault. Korporasi yang bermarkas di Yokohama ini pun ingin terus melanjutkannya dengan tetap menjaga independensi.

“Saya berpikir untuk meneruskan aliansi sembari menjaga kemandirian Nissan,” tegasnya.

Bos anyar Nissan juga menyatakan perusahaan harus memikirkan kembali kultur korporasi. Ia menilai menurunnya penjualan serta profit adalah hasil dari tujuan tidak realistis yang dipasang oleh Ghosn dalam masa kepemimpinannya.

“Dengan mencoba menggapai target terlalu ambisius, kami telah menyebabkan penurunan yang cepat dalam performa kami sendiri. Kami harus memasang target yang menantang tapi dapat tercapai serta dapat dimengerti,” tukas dia.

Rencana Nissan yang disebutkan Uchida antara lain adalah melakukan pengurangan 12.500 tenaga kerja di seluruh dunia. Nissan juga mereview ulang portofolio mereka plus mengurangi kapasitas produksi global dari 7,2 juta ke 6,6 juta unit mobil per tahun.

Di dalamnya termasuk penghilangan merek Datsun. Dampaknya, di Indonesia, adalah penyetopan produksi maupun penjualan Datsun mulai 2020.

Datsun dahulu lahir kembali atas inisiatif dari Ghosn. Merek ini diposisikan sebagai mobil-mobil versi terjangkau dari Nissan dan mengincar pasar negara berkembang, salah satunya Indonesia. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Chat Aktif
Diarsipkan
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Hapuskan chat?
Chat Empty
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual
Bantuan

Kami akan membantu Anda

klik tombol "Bantuan" untuk berbicara dengan Customer Care kami.
Support