Mantan Karyawan Tesla Didenda Rp 5.6 Miliar Karena Terbukti Lakukan Sabotase

Berita Otomotif

Mantan Karyawan Tesla Didenda Rp 5.6 Miliar Karena Terbukti Lakukan Sabotase

CALIFORNIA - Seorang mantan karyawan Tesla terbukti di pengadilan telah lakukan sabotase dengan mencuri rahasia dagang Tesla dan kemudian harus membayar denda sebesara Rp 5.6 miliar.

Ex karyawan tersebut bernama Martin Tripp, mantan teknisi di Tesla Gigafactory yang berada di Nevada, Amerika Serikat. Perselisihan antara perusahaan dan mantan karyawannya ini sudah berlangsung cukup lama, lebih dari 2 tahun lalu.

Perselisihan Tesla dan tentunya bersama sang pemilik Elon Musk dengan Martin sudah berlangsung sejak Juni 2018. Pabrikan mobil listrik ternama yang berbasis di Palo Alto, California ini berhasil menangkap basah mantan karyawannya tersebut melakukan kecurangan di internal mereka.

Martin dituduh meretas sistem operasi pabrik serta mencuri rahasia dagangnya. Setelah itu Ia juga sempat membuat klaim palsu kepada wartawan tentang informasi yang dicurinya.

Ia selanjutnya memainkan peran sebagai seorang whistleblower. Pada media, Martin menyebut bahwa telah mengidentifikasi inefisiensi pabrik dan penundaan yang dilakukan Tesla dalam upaya memaksimalkan kapasitas produksi Tesla Model 3 sebanyak 5 ribu unit tiap minggunya.

Mantan Karyawan Tesla Didenda Rp 5.6 Miliar Karena Terbukti Lakukan Sabotase
Tak hanya itu, Tesla juga mengkalim bahwa Martin sempat melaukan penembakan di pabrik. Meski akhirnya menurut investigasi Kepolisian setempat tidak ada bukti terkait dengan kejadian penembakan.
 
Tesla dan Martin akhirnya saling menggugat atas kejadian ini. Tesla yang merasa dirugikan melaporkan tindakan Martin tersebut kepada pihak berwajib. 

Begitu juga Martin melaporkan Tesla pada September lalu. Tuduhan yang dilayangkan adalah pencemaran nama baik, termasuk penyebaran email oleh Musk kepada seluruh karyawannya berisi tuduhan bahwa Ia melakukan sabotase.

Gugatan Martin kemudian ditolak hakim. Sementara gugatan Tesla akhirnya mendapat putusan pengadilan pada senin lalu (30 November 2020).

Miranda Du, Hakim Ketua Pengadilan Federal di Reno, Nevada mengabulkan gugatan Tesla pada Martin. Yang kemudian harus membayar denda sebesar 400 ribu dollar atau sekitar Rp 5.6 miliar.

Ia kemudian menerima putusan tersebut dan tidak membantah semua tuduhan yang dilayangkan oleh pihak Tesla kepadanya. Kemudia  sudah menandatangani putusan bersama dengan seorang kuasa hukum dari Tesla.

Lainnya, bicara soal sabotase yang dilakukan karyawan Tesla ternyata tidak hanya dilakukan oleh Martin. Seperti Oktober 2020 lalu, seorang karyawan yang tidak disebutkan namanya telah dipecat karena terbukti melakukan sabotase.

Al Prescott, Vice President of Legal and Acting General Counsel Tesla menyebutkan bahwa pihaknya dengan cepat dapat mendeteksi dan mengungkap insiden yang terjadi. Sabotase ini sendiri sempat mengganggu kegiatan operasi di pabrik mereka di Fremont, California namun kemudian berhasil di atasi. 

Sementara pada 2016 Tesla menggugat mantan oil-services executive-nya karena menyamar sebagai big boss mereka Elon Musk. Dan mencoba memperdayai Jason Wheeler mantan Chief Financial Officer Tesla. [Ari]



Krisna Arie

Krisna Arie

Senang semua benda bermesin dan beroda sejak duduk di bangku sekolah dan memulai bekerja di media dengan segmen otomotif sejak tahun 2002. Pria sederhana ini selalu percaya pekerjaan akan lebih sempurna jika didasari dengan passion.


Berita Utama


Komentar