Macet dan Banyak Tanjakan, Indonesia Perlu Berapa Tempat Cas Mobil Listrik?

Berita Otomotif

Macet dan Banyak Tanjakan, Indonesia Perlu Berapa Tempat Cas Mobil Listrik?

JAKARTA – Stasiun pengecasan dalam jumlah yang mencukupi adalah salah satu syarat wajib untuk mendorong permintaan mobil listrik di Indonesia. Namun, kondisi maupun kontur jalan yang unik di negara ini membuat jumlah stasiun pengecasan ideal benar-benar harus dihitung secara cermat.

Ini menjadi salah satu kesimpulan dari diskusi virtual ‘Tantangan dan Peluang Mobil Listrik di Indonesia’, Kamis (26/11/2020). Hadir sebagai pembicara, Riyanto selaku Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia dan Hari Setiapraja selaku Kepala Balai Teknologi Termodinamika dan Propulsi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Seperti diketahui, pemerintah memang ingin mendorong berkembangnya pasar dan industri mobil listrik, melalui insentif fiskal dan nonfiskal yang mulai berlaku pada Oktober 2021. Pemerintah menargetkan 20 persen produksi lokal kendaraan listrik pada 2025.

Hari menjelaskan tantangan paling utama dalam misi pemerintah mempopulerkan kendaraan listrik adalah ketersediaan stasiun pengecasan, yang di sini disebut SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum). Infrastruktur tersebut akan mendorong permintaan kendaraan listrik dari konsumen, selain juga keterjangkauan harga.


“Ini syarat yang vital. Tanpa SPKLU dalam jumlah memadai, sepertinya akan sulit membuat distribusi mobil listrik menyeluruh,” ucap dia.

Penempatan maupun jumlahnya sendiri harus benar – benar sesuai dengan kondisi lalu lintas dan topografi di Indonesia. Jalanan di Indonesia yang macet serta adanya cukup banyak tanjakan akan mempengaruhi jarak tempuh mobil listrik.

“Kalau menurut pemahaman kami di BPPT—karena salah satu kajian kami adalah penempatan stasiun pengecasan mobil listrik yang ideal—faktor – faktor itu memang harus sangat diperhatikan terutama dari pola arus lalu lintas, densitas, volume, dan lain sebagainya. Itu yang nanti akan disambungkan dengan konsumsi baterai sesuai teknologi saat ini,” papar Hari.

Sayang, dia belum menemukan satu literatur atau kajian terkait penempatan atau jarak ideal antara satu stasiun pengecasan mobil listrik dengan yang lainnya. Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah dari para pemangku kepentingan.

“Ini perlu kajian detail terkait pola transportasi di kota yang ada kendaraan listrik ini nantinya… Terlalu banyak stasiun pengecasan, enggak efektif juga dari sisi sustainability (keberlangsungan infrastruktur),” tukas dia. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar