Konsumen Mercedes Sering Beli Atas Nama Perusahaan Demi Siasati Pajak Progresif

Berita Otomotif

Konsumen Mercedes Sering Beli Atas Nama Perusahaan Demi Siasati Pajak Progresif

TANGERANG – Konsumen-konsumen Mercedes-Benz ternyata kerap membeli mobil pribadi atas nama perusahaan demi menyiasati pajak progresif.

Hari Arifianto, Deputy Director Marketing Communication PT. Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI), menjelaskan komposisi pembelian borongan oleh perusahaan (fleet) untuk kendaraan mereka cukup besar yaitu 35 – 40 persen. kontribusi pembelian fleet meningkat pesat sejak penerapan pajak progresif, yaitu pengenaan pajak lebih besar untuk kendaraan kedua dan seterusnya, sekitar empat atau lima tahun lalu.

“Cukup signifikan tapi agak blur mana yang memang pengguna retail dan mana yang menggunakan nama perusahaan,” ujar dia ketika diwawancarai belum lama ini di Serpong, Tangerang.

Menurut dia, saat ini ada tendensi pembelian mobil untuk penggunaan pribadi tapi mengatasnamakan perusahaan. Pasalnya, mobil perusahaan tidak dikenakan pajak progresif. Praktik semacam ini cukup lazim dilakukan oleh konsumen roda empat semua segmen, termasuk segmen premium.

“Sebenarnya saya tak sebut ini sebagai trik karena kesannya, kan, negatif. Tetapi ini menjadi suatu hal yang lebih ekonomis mengingat harga kendaraan Mercedes-Benz cukup tinggi tapi para konsumen kami tetap ingin memakainya. Padahal pasti pemilik Mercedes-Benz akan memiliki kendaraan lebih dari satu sehingga mobil baru mereka akhirnya diregistrasikan sebagai kendaraan operasional perusahaan karena toh mereka juga banyak yang menjadi Chief Executive Officer (CEO) , pemilik perusahaan, atau menjalankan bisnis sendiri,” papar dia.

Para eksekutif perusahaan kerap ‘patungan’ membeli untuk pribadi tapi atas nama korporasi. Apalagi, Mercedes-Benz mempunyai skema pembelian fleet yang menawarkan harga spesial.

“Kalau kami, kan, ada skema fleet yang beda dengan pembelian individual. Kalau skema fleet, misalnya, beli di atas tiga unit ada harga spesial. Ya sudah satu untuk CEO, satu wakil presiden direktur, satu general manager,” beber Hari.

Adapun fleet yang paling banyak dibeli adalah C-Class serta E-Class. S-Class juga jadi model lain yang menjadi favorit.

“Buat direksi banyak C-Class dan E-Class. Kalau CEO, misalnya, E-Class. Untuk General Manager, Senior Manager, C-Class. Tapi sebenarnya modelnya sangat variatif. Kalau perusahaan skala besar bisa juga CEO dapat S-Class dan yang dibawahnya E-Class. Itu tergantung skala perusahaan,” papar Hari. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar