Indonesia Punya Banyak Nikel, Tesla Malah Minta Suplai ke Australia

Berita Otomotif

Indonesia Punya Banyak Nikel, Tesla Malah Minta Suplai ke Australia

MELBOURNE – Tesla mengamankan sumber suplai nikel terbaru untuk bahan baku baterai mereka. Sumbernya bukan Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, melainkan Australia.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun lalu yang ada di booklet "Peluang Investasi Nikel Indonesia" menyatakan negara ini punya cadangan nikel 72 juta ton atau setara 52 persen total cadangan nikel dunia yang ada di angka 139.419.000 ton.

Pemerintah pun dalam beberapa tahun terakhir gencar mengundang berbagai perusahaan besar di rantai suplai komponen mobil listrik listrik berinvestasi di negeri ini, termasuk Tesla.

Belum ada kabar terbaru mengenai pembicaraan pemerintah Indonesia dengan Tesla. Akan tetapi, menurut laporan Reuters pada Kamis (22/7/2021) , pabrikan mobil listrik asal Amerika Serikat yang didirikan Elon Musk ini malah resmi bekerja sama dengan BHP Group di Australia sebagai penyuplai nikel.

Elon Musk pendiri pabrikan mobil listrik Tesla

BHP menyebut suplai untuk Tesla diambil dari Nickel West Operation di sebelah barat Negeri Kanguru. Nikel sendiri diperlukan untuk menghasilkan densitas energi pada baterai sehingga membuat mobil listrik dapat menempuh jarak lebih jauh lagi dengan sekali pengecasan.

BHP-Tesla, seperti dijelaskan keterangan resmi dari korporasi pertambangan itu, juga melirik kolaborasi-kolaborasi lain. Salah satunya adalah menggarap solusi penyimpanan energi (energy storage solution/ESS).

“Tesla bakal mengamankan persediaan nikel dari produsen yang mapan dengan kemampuan operasional tepercaya sebanyak mungkin. Ini adalah langkah logis untuk Tesla saat ini, ketika tidak banyak peluang lainnya,” nilai konsultan independen Steven Brown.

mobil listrik Tesla Model 3

Australia merupakan produsen pertambangan nikel kelima terbesar dunia, jika menilik data International Nickel Study Group (INSG), mereka berkontribusi 7 persen dari suplai global.

Di sisi lain, menurut data yang sama, Indonesia berkontribusi 30 persen dari suplai nikel dunia. Kontribusi Nusantara diramalkan bakal makin kuat menjadi 50 persen pada 2025.

Meski Tesla belum melirik Indonesia, banyak pemain besar di industri mobil listrik beserta komponennya sudah menyatakan komitmen investasi di dalam negara. Misalnya saja CATL asal China dan LG Chemical asal Korea Selatan. [Xan/Had]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar