Gaikindo Nilai Mobil Listrik Terlalu Prematur Buat Indonesia

Berita Otomotif

Gaikindo Nilai Mobil Listrik Terlalu Prematur Buat Indonesia

JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menentang wacana pemerintah melarang penjualan mobil konvensional pada 2030 atau 2040 dan menggantinya dengan mobil listrik. Mereka menilai teknologi tersebut terlalu prematur untuk negara ini, sehingga mesti dicapai secara bertahap dan alami.

Pemerintah Indonesia dinilai punya banyak hal yang mesti dibereskan jika ingin mempopulerkan mobil listrik. Apalagi jika berencana menghentikan penjualan mobil konvensional pada tahun tertentu.

Gaikindo mewanti-wanti bahwa infrastruktur menjadi pekerjaan rumah paling besar. Stasiun pengisian daya baterai mesti tersebar merata dan itu tantangan serius bagi negara seluas Indonesia.

“Maaf, kalau negaranya seluas Singapura itu relatif mudah. Tapi kalau negara seluas Indonesia dan harus menaruh stasiun pengisian daya di Aceh hingga Papua itu bukan pekerjaan mudah,” kata Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi, belum lama ini di Jakarta.

Kesiapan listrik Indonesia Indonesia juga mesti dipikirkan. Butuh tegangan listrik besar untuk menyuplai stasiun-stasiun pengisian daya.

Nangoi mencontohkan infrastruktur serupa di luar negeri yang mampu mengisi baterai mobil listrik hanya dalam 2,5 – 3,5 jam. Agar mampu seperti itu, satu stasiun butuh tegangan 450 – 470 volt.

“Nah, kalau Anda bilang hentikan semua penjualan mobil konvensional suatu waktu terus ke mobil listrik, apa Anda sudah mampu bangun di seluruh Indonesia jaringan yang mampu mengisi dalam 2,5 – 3,5 jam?,” papar dia.

Tegangan listrik di rumah pun wajib dibenahi. Pasalnya, dengan tegangan 220 volt yang dimiliki kebanyakan rumah di Indonesia, butuh 8 – 10 jam dengan risiko perabotan listrik lain di hunian bisa terganggu.

“Anda isi di rumah, maka gardu-gardu listrik akan menjadi tak mencukupi lagi. Itu harus dipikirkan,” tegasnya.

Tugas pemerintah selanjutnya ialah memastikan sumber tenaga dari pembangkit tenaga listrik juga ramah lingkungan. Jika masih memakai batu bara, polusi hanya berpindah tempat.

“Yang harus kita ingat lagi, setelah 10-15 tahun kemudian, baterai ini harus didaur ulang. Nah, pendaur ulangan baterai ini enggak gampang. Saat ini di dunia baru ada satu-dua negara yang bisa mendaur ulang,” tambah Nangoi.

Terakhir, industri komponen juga terancam banyak yang gulung tikar jika wacana pelarangan penjualan mobil konvensional dilakukan tanpa pikir panjang. Nangoi menjelaskan ada 1,2 juta orang yang bekerja di bisnis otomotif, termasuk di industri komponen.

Nangoi berpikir sebaiknya peraturan yang dukung ke arah kendaraan rendah emisi harus dibenahi terlebih dahulu. Hal ini akan menumbuhkan mobil hybrid, plug-in hybrid, sampai akhirnya mobil listrik.

“Kalau sudah berkembang tinggal kita lihat,” tandasnya. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di sebuah harian umum nasional dan resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar

Support
Chat Support
Support Support
0 Support
Support
Chat Aktif0
Diarsipkan
Hapuskan chat?
Chat
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual