Honda Indonesia: Tuntutan Rp 56 Miliar Tidak Berdasar

Berita Otomotif

Honda Indonesia: Tuntutan Rp 56 Miliar Tidak Berdasar

JAKARTA - PT Honda Prospect Motor (HPM) dituntut oleh seorang konsumennya sendiri dengan angka fantastis: Rp 56 miliar. Tuntutan itu terjadi karena airbag Honda City tidak mengembang. Tapi Honda membantahnya seraya menyebut kalau tuntutan tersebut tidak berdasar.

Seperti diberitakan sebelumnya, kecelakaan Honda City terjadi pada 29 Oktober 2012 ketika Desryanto Aruan (24 tahun) sedang menuju pulang ke rumah setelah menonton acara sepakbola bersama teman-temannya di daerah SCBD. Mendekati arah pulang, ternyata Desryanto mengalami kecelakaan di Jalan Kapten Pierre Tendean, Jakarta Selatan.

Saat kecelakaan itu, airbag  Honda City 2009 yang dikemudikan Desryanto tidak mengembang. Akibat kejadian tersebut, orang tua Desryanto, Maringan Aruan pun menuntut Honda bertanggung jawab atas insiden tersebut. Terlebih saat itu Desryanto dalam penelitian yang dilakukan Honda, sudah dipastikan menggunakan sabuk pengaman.

Tapi Honda melalui Technical Training Manager PT Honda Prospect Motor Muhamad Zuhdi mengklaim SRS Airbag pada Honda City yang dipermasalahkan tidak mengalami gangguan atau cacat produksi.

Selain itu, teknologi G-CON dan ACE™ pada mobil tersebut telah bekerja dalam meredam energi benturan yang terjadi sehingga kabin mobil tetap utuh.

Karena itu, ganti rugi yang diminta penggugat dianggap Honda tidak berdasar karena Honda mengklaim SRS Airbag pada Mobil Honda City tidak mengalami cacat produksi, kecelakaan yang dialami tidak memenuhi kondisi atau prasyarat untuk mengembangnya SRS Airbag, serta kerugian yang dialami oleh Penggugat tidak diakibatkan oleh SRS Airbag yang tidak mengembang, maka tidak ada kewajiban dari Honda untuk memenuhi tuntutan Penggugat.

Meski demikian, Honda telah beritikad baik dengan melakukan mediasi, bahkan jauh sebelum persidangan dimulai kepada pihak Penggugat.

"Namun mediasi tersebut tidak mencapai kesepakatan karena Penggugat meminta Honda untuk membayar ganti rugi dengan total sekitar Rp. 56 milyar,  termasuk di dalamnya sebesar USD 552,250 untuk mengganti biaya hidup Anak Penggugat selama 8 tahun menempuh pendidikan di luar negeri, serta biaya imateriil senilai Rp. 50 milyar."

"Tuntutan tersebut tidak berdasar karena tidak ada sangkut pautnya dengan Tergugat, dan tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat (2) UU Perlindungan Konsumen yang menyatakan pada intinya: ganti rugi yang dapat dibebankan kepada Pelaku Usaha hanyalah ganti rugi berupa pengembalian uang, penggantian barang yang sejenis atau setara nilainya atau perawatan kesehatan dan / atau pemberian santunan." [Syu/Idr]

Temukan mobil idaman di Mobil123
Mari bergabung bersama kami di Facebook dan Twitter

 



Syubhan Akib

Syubhan Akib

Pria berkacamata yang mencintai dunia otomotif dan sangat suka memandang mobil klasik serta mempelajari sejarah otomotif dunia. Kemacetan adalah sahabat, kecepatan adalah kesukaan dan liburan akhir pekan adalah impian.


Berita Utama


Komentar

Support
Chat Support
Support Support
0 Support
Support
Chat Aktif0
Diarsipkan
Hapuskan chat?
Chat
Tidak ada chat yang sedang berlangsung
Mulai pencarian dan chat dengan penjual