Modifikasi Mobil Bisa Bermasalah dengan Asuransi, Waspadalah

Berita Otomotif

Modifikasi Mobil Bisa Bermasalah dengan Asuransi, Waspadalah

TANGERANG – Modifikasi mobil, baik yang bersifat ringan maupun berat, kadang dilakukan demi membuat kendaraan makin keren. Ternyata, kegemaran tersebut dapat membuat klaim asuransi kendaraan hangus.

Modifikasi kendaraan tak hanya berpotensi menghanguskan garansi resmi dari pabrikan. Pemilik pun bisa bermasalah dengan asuransi yang diikuti saat mobil baru dibeli.

Robert, Asisten Direktur Asuransi Raksa, menjelaskan bahwa ada perusahaan asuransi yang menolak modifikasi kendaraan. Ada pula yang memperbolehkannya dengan batasan-batasan tertentu. Pemilik kendaraan mencari tahu hal ini sebelum memutuskan untuk mengoprek-oprek roda empat miliknya.

“Rata-rata dibatasi. Pembatasannya seberapa banyak tergantung dari perusahaan asuransinya. Tapi, biasanya, maksimal nilai modifikasi yang diperbolehkan adalah 20 – 30 persen dari harga kendaraan,” paparnya.

Lantas, bagaimana jika mobil tersebut baru diikutsertakan asuransi setelah dimodifikasi? Robert menyarankan sang pemilik benar-benar menerangkan dengan jujur mengenai perubahan-perubahan yang dilakukan saat survei kendaraan. Jangan lupa pula meminta agen asuransi memasukkan poin-poin modifikasi pada polis asuransi.

“Yang penting ada kesepakatan di awal. Lalu, jangan lupa minta dicantumkan di polis asuransi,” tukas Robert.

Memang, premi per bulan yang mesti dibayar akan bertambah. Namun, batas bawah maupun batas atas premi asuransi saat ini sudah diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan menurut Robert selisihnya tak terlampau jauh.

“Kalau dulu itu sebelum ada batas bawah dan batas atas dari OJK, masyarakat banyak yang memilih berdasarkan murahnya premi saja. Tidak tahu bagaimana nanti kenyataannya saat klaim. OJK membatasi seperti ini agar kami semua bersaing di pelayanan. Kalau tidak, bisa rusak industri,” tandas Robert.

Kesadaran Rendah
Robert menilai bahwa kesadaran masyarakat mengikuti asuransi, termasuk asuransi kendaraan masih rendah. Mereka kebanyakan mengikuti asuransi karena mengikuti persyaratan dari perusahaan pembiayaan.

Asuransi, menurutnya, masih dianggap kebutuhan sekunder. Padahal, di negara-negara maju asuransi sudah menjadi kebutuhan primer.

“Semua kembali lagi ke pola pikir. Mobil mereka anggap aset atau tidak? Kalau aset, semestinya diasuransikan,” tutup dia. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar