Duh, Pasar Dinilai Bisa Syok kalau Diskon PPnBM Mobil Baru Langsung Dicabut

Berita Otomotif

Duh, Pasar Dinilai Bisa Syok kalau Diskon PPnBM Mobil Baru Langsung Dicabut

TANGERANG – Pasar otomotif Indonesia dikhawatirkan syok, kalau pemerintah langsung mencabut diskon Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) mobil baru pada 2022. Kebijakan ini diharapkan diperpanjang atau minimal dicabut secara bertahap.

Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah sedang mengkaji perpanjangan insentif PPnBM bagi mobil baru rakitan dalam negeri dengan kandungan komponen minimal 60 persen. Sementara ini, kebijakan untuk mendorong industri otomotif di tengah pandemi Covid-19 tersebut berlaku sejak Maret-Desember 2021.

Stimulus bernama PPnBM Ditanggung Pemerintah (PPnBM DTP) ini terbagi menjadi dua kategori. Ada PPnBM DTP 100 persen bagi mobil-mobil 1.500 cc ke bawah dan PPnBM DTP 50 persen/25 persen—tergantung jenis sistem penggerak roda—untuk mobil-mobil 1.501-2.500 cc.

“Pada Januari 2022 nanti, harapan kami sih diperpanjang. Tapi, kami yakin pemerintah mempunyai kebijakan yang tepat dan akan mengambil langkah tepat supaya pertumbuhan ekonomi bisa terus terjaga,” ujar Business Innovation, Sales, and Marketing Director PT. Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy menjawab pertanyaan Mobil123.com pada Rabu (8/12/2021) di sela-sela media test drive All New Honda Civic RS dengan rute Jakarta-Serpong-Jakarta.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan wholesales (distribusi ke diler/untuk stok) pada Januari-Oktober 2021 mencapai 703.089 unit, naik 67 persen dibanding periode yang sama pada 2020 (year on year) yang masih benar-benar terpukul pandemi.

Penjualan retail (distribusi dari diler ke konsumen) 677.333 unit, tumbuh 49,3 persen year on year.

Tahun ini, target penjualan mobil dari Gaikindo minimal 750 ribu unit. Melihat perkembangan terakhir, para eksekutif pabrikan dalam berbagai kesempatan mengutarakan keyakinan target terlampaui menjadi antara 800 ribu hingga 850 ribu unit. Termasuk Yusak Billy.

“PPnBM DTP yang sudah berjalan ini benar-benar membantu pertumbuhan ekonomi melalui industri otomotif,” tegas Billy lagi.

Billy menilai pasar bisa syok kalau insentif atau ‘diskon’ PPnBM langsung dihilangkan. Apalagi, tarif PPnBM mobil baru bermesin konvensional di masa normal telah direvisi oleh pemerintah dari awalnya 10 persen menjadi 15 persen melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2019 dan PP Nomor 74 Tahun 2021.

“Kami, sih, khawatir pasar bisa syok karena terlalu tinggi loncatnya,” pungkas dia.

Setali tiga uang, Marketing and Corporate Planning Director PT. Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra berpendapat penjualan mobil bisa drop kalau insentif PPnBM sontak dihilangkan. Ia berharap penghapusan dilakukan bertahap.

“Tetap dulu 100 persen (pada awal 2022), lalu mulai kuartal dua relaksasi diskonnya turun menjadi 75 persen, 50 persen, 25 persen, sampai tidak ada diskon lagi,” ujarnya mencontohkan, di sela-sela media test drive All New Daihatsu Xenia pada 1-2 Desember 2021 di Kebumen, Jawa Tengah.

Gaikindo menetapkan target penjualan mobil pada 2022 minimal 900 ribu unit. Ini merupakan skenario kalau diskon PPnBM mobil baru tidak diperpanjang. [Xan/Ses]

Temukan mobil baru idaman Anda di sini.



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar