Corona Bikin Penjualan Mobil di Indonesia Bergantung pada Orang Kaya

Berita Otomotif

Corona Bikin Penjualan Mobil di Indonesia Bergantung pada Orang Kaya

JAKARTA – Penjualan mobil Indonesia di masa sulit akibat pandemi virus Corona, menurut ekonom INDEF, tinggal bergantung pada keinginan membeli dari kalangan kelas menengah ke atas.

Pandemi virus Corona yang diumumkan sudah masuk Indonesia pada 2 Maret 2020 sudah berdampak amat besar terhadap perekonomian. Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam konferensi pers virtual beberapa waktu lalu, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan berada pada minus 0,4 – 2,3 persen atau turun jauh capaian 2019 sebesar 5,2 persen.

Adapun INDEF (Institute for Development of Economic and Finance) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di 1,4 persen. Ini kemudian berpengaruh juga pada industri serta pasar otomotif.

“Ketika ekonomi turun, permintaan turun,” tegas Tauhid Ahmad, Executive Director INDEF dalam konferensi video dengan Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) beberapa waktu lalu.

Indikasi permintaan yang bakal turun drastis terlihat dari buruknya kondisi konsumsi rumah tangga saat pandemi berdasarkan modeling INDEF. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Tanah Air diproyeksikan bisa berkurang 4,89 persen—dari normalnya naik 5 – 6 persen—jika kondisi ini belum bisa ditangani dalam enam bulan.

“Dalam konsumsi rumah tangga itu mereka juga pasti mengutamakan kebutuhan pokok dulu, bukan otomotif,” tegasnya.

Dalam kondisi tersebut, mau tak mau para dealer mobil hanya berharap dari konsumen kelas menengah ke atas. Runyamnya, menurut Tauhid, konsumen terbesar di pasar otomotif khususnya kendaraan roda empat adalah kelas menengah.

Situasi diperparah dengan kebijakan leasing meningkatkan uang muka kredit mobil dari 20 persen menjadi 40 persen.

“Harapan hanya pada masyarakat kela menengah ke atas di desil 8 – 10. Kelas menengah dengan desil 5 – 7 tidak mungkin,” tandasnya.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sendiri sudah merevisi target penjualan mobil secara signifikan. Pasar yang diproyeksikan berada di kisaran 1 juta unit—relatif sama dengan tahun lalu—diperkirakan turun 40 persen menjadi hanya 600 ribu unit.

Konsumen mobil kelas menengah ke atas sendiri sayangnya tetap punya potensi untuk menahan pembelian dalam kondisi seperti sekarang. Inilah yang menyebabkan Mercedes-Benz merevisi target penjualan 2020.

“Ancaman yang kami identifikasi misalnya ada potential rush apa enggak. Karena kalau begitu takutnya pemikiran untuk membeli mobil menjadi bukan prioritas,” ujar Hari Arifianto, Deputy Director Marketing Communication PT. Mercedes-Benz Distribution Indonesia kepada Mobil123.com dalam Star Drive 2020 pertengahan Maret lalu di Jakarta. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar