Mobil123.com
Aplikasi Mobil123.com
Download Gratis – iCar Asia Limited
4.4
33,336

Cara Membaca Kode Oli di Kemasan Agar Tidak Salah Beli

Panduan Pembeli

Cara Membaca Kode Oli di Kemasan Agar Tidak Salah Beli

Salah satu cara mudah membeli oli kendaraan adalah dengan membaca kode oli yang ada pada kemasan. Hal ini berkaitan dengan kesalahan menggunakan oli justru bisa membuat performa kendaraan menjadi tidak maksimal dan berpotensi merusak mesin dalam jangka waktu panjang.

Ada beberapa kode yang harus diperiksa untuk memastikan bahwa oli yang digunakan memang sesuai kebutuhan. Kode tersebut umumnya adalah SAE dan API.

mengganti oli mesin

Kode SAE adalah singkatan dari Society of Automotive Engineer dan biasanya digunakan untuk menyampaikan tingkat kekentalan oli. Pada kemasan oli selalu tertulis SAE SAE 10W-30, 10W-40 atau 20W-40 atau 20W-50. Huruf W yang tersebut merupakan singkatan dari ‘Winter’. Oli dengan kode W tersebut memiliki formula yang cocok untuk digunakan di musim dingin dan panas. Dengan ini maka bila mobil berada di kondisi dingin maka oli tidak akan mengental.

Sementara untuk angka di depan menunjukkan tingkat kekentalan oli pada suhu dingin. Dan angka paling belakang menunjukkan tingkat kekentalan oli saat mesin dalam kondisi panas atau saat mesin bekerja. Semakin besar angkanya maka oli akan semakin kental, demikian sebaliknya semakin kecil angkanya maka akan semakin encer olinya.

Selanjutnya adalah kode API yang merupakan singkatan dari American Petrolium Institute. Kode API ini menentukan kualitas pada oli. Biasanya di kemasan tertulis kode API dengan dua tambahan alfabet huruf di belakangnya misalnya “API SN” atau “API CH”.

Untuk huruf pertama memiliki makna jenis mesin yang dapat menggunakan oli tersebut. Huruf ‘S’ diperuntukkan untuk kendaraan bermesin bensin. Sementara untuk huruf ‘C’ bertujuan untuk memberi tahu bawah oli tersebut hanya digunakan untuk kendaraan bermesin diesel.

Sedangkan untuk huruf kedua adalah untuk menunjukkan teknologi dari oli tersebut. Semakin baru teknologi oli maka hurufnya akan semakin mendekati huruf Z. Misalkan, API SN memiliki kualitas dan teknologi yang lebih modern ketimbang API SG.

Kendaraan keluaran baru tentu disarankan untuk menggunakan oli yang memiliki huruf mendekati huruf Z. Sementara untuk mobil tua justru tidak dianjurkan menggunakan oli berteknologi tinggi. Hal ini karena mesinnya yang memang tidak dirancang untuk menggunakan oli tersebut.

Risiko Salah Pilih Kekentalan Oli

Cara Baca Kode Oli di Kemasan Agar Tidak Salah Beli

Membaca kode oli sangat penting, terutama terkait dengan keterangan kekentalan oli.

Jangan pernah memandang sebelah mata kekentalan oli untuk mesin kendaraan yang digunakan. Pasalnya, akan ada banyak efek negatif yang akan dirasakan oleh pemilik kendaraan khususnya dalam jangka panjang.

Salah satu yang paling umum adalah mesin menjadi lebih cepat panas dan efisiensi bahan bakar juga akan menjadi berkurang. Terlebih bila bahan bakar yang digunakan juga tidak sesuai dengan anjuran maka dampaknya akan lebih terasa. Namun ini adalah sebuah kerugian yang baru akan dirasakan dalam jangka waktu panjang.

Untuk itu, setelah atau sebelum membaca kode oli, disarankan kepada pemilik kendaraan untuk memeriksa ulang buku manual kendaraan. Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa oli yang digunakan tidak salah sehingga performa mesin dapat bekerja secara maksimal.

Risiko Oli Mesin Diesel dan Mesin Bensin Tertukar

Meski sama-sama oli dan bertujuan untuk melindungi bagian dalam mesin, tetap saja ada perbedaan mendasar antara oli mesin diesel dan mesin bensin. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan karakter antara mesin diesel dan bensin sehingga keduanya memiliki kebutuhan oli yang berbeda pula. Perbedaan yang paling mendasar adalah tingkat kekentalan dan kandungan detergen dari oli.

Secara umum, mesin diesel memiliki karakter lebih panas dibandingkan mesin bensin. Tak hanya itu, sisa pembakaran pada mesin diesel pun secara umum lebih banyak ketimbang mesin bensin. Kondisi ini membuat mesin diesel membutuhkan oli dengan tingkat kekentalan lebih tinggi dan kandungan detergen lebih besar dibanding mesin bensin.

mengganti pelumas mesin mobil

Dengan kekentalan yang lebih pekat maka oli mesin diesel diharapkan bisa bertahan di suhu ruang bakar lebih tinggi dan formula didalamnya tidak mudah rusak. Demikian juga kandungan detergen yang berfungsi untuk membersihkan sisa pembakaran juga lebih kuat karena untuk menghindari terjadinya kerak di mesin.

Lantas bagaimana bila oli untuk mesin diesel digunakan untuk mesin bensin?

Risiko paling umum adalah mobil menjadi lebih berat saat dinyalakan. Selain itu, tarikan mesin menjadi terasa lebih berat karena oli lebih kental.

Dalam jangka panjang, maka kesalahan tersebut dapat membuat konsumsi BBM menjadi lebih boros dan emisi gas buang tinggi. Formula detergen yang seharusnya berfungsi di mesin diesel juga justru dapat berdampak negatif karena akan menumpuk di ruang mesin akibat oksidasi dan menimbulkan lapisan gel di filter oli dan celah komponen mesin. Kondisi tersebut akan menyebabkan oli tidak bisa bersirkulasi dengan baik. Selai itu, komponen cepat aus karena fungsi pelumas terhalang oleh gel.

Lalu bagaimana bila kasus sebaliknya terjadi, mesin diesel menggunakan oli bensin?

Salah satu yang paling terasa adalah mesin dapat overheat karena fungsi pendingin oli tidak dapat bekerja secara maksimal. Selain itu, formula yang ada pada oli akan rusak sehingga pelumas tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan optimal.

Kondisi tersebut pun masih bisa lebih parah lagi bila oli mesin bensin yang digunakan tidak memiliki fungsi pembersihan sebaik oli mesin diesel. Sisa pembakaran yang tertinggal akan menempel di komponen mesin khususnya piston dan menciptakan kerak.

Kerak tersebut mampu menahan proses pelepasan panas di piston mesin. Kerak juga menghalangi pelumas melakukan proses pendinginan pada piston. Akibat terburuknya, piston memuai dan kemudian menyebabkan mesin berhenti bekerja.

Tak hanya itu, kerak yang menempel juga membuat proses pembakaran yang mengandalkan tekanan piston tidak akan berjalan optimal dan membuat konsumsi BBM meningkat. Tenaga yang dihasilkan pun turun dan membuat berkendara menjadi tidak menyenangkan.

Motor Gunakan Oli Mobil, Amankah?

Cara Baca Kode Oli di Kemasan Agar Tidak Salah Beli

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa oli mesin motor dan mobil adalah sama. Akibatnya, banyak pemilik mobil yang setelah ganti oli, menjadikan oli sisa untuk sepeda motor miliknya dengan harapan menekan biaya perawatan.

Kebiasaan tersebut ternyata adalah sebuah kesalahan dan justru dapat berdampak negatif terhadap kondisi mesin motor. Hal ini karena ada perbedaan karakter yang sangat jauh antara mesin mobil dengan mesin motor.

Mesin mobil umumnya menggunakan sistem transmisi dengan kopling kering. Sementara itu untuk sepeda motor, umumnya koplik terendam oli atau biasa disebut dengan kopling basah. Bila salah memilih oli maka performa motor akan terganggu, lantaran kopling menjadi selip. Imbasnya pasti akan muncul beragam masalah di mesin.

Selain itu, kapasitas mesin mobil dan motor juga berbeda sehingga cara kerja mesin pun juga berbeda. Karena memiliki kapasitas yang besar, maka mesin mobil akan bekerja pada RPM rendah. Sementara motor memiliki RPM yang tinggi akibat putaran mesin yang juga lebih tinggi. Kondisi ini membuat formula antara oli mobil dengan motor berbeda. [Adi/Had]



Adi Hidayat

Adi Hidayat

Pria lugu yang tinggal di Bekasi ini kerap menghadapi kemacetan Jakarta untuk memberikan informasi terkini terkait dunia otomotif Indonesia. Menghirup asap knalpot, merasakan teriknya panas matahari, menerabas hujan hingga menembus kepungan banjir pun telah menjadi bagian dari hidupnya. Meski demikian ia menjalaninya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.


Berita Utama


Komentar