Bos Mercedes-Benz: Siap-siap Pemotongan Gaji karena Pandemi

Berita Otomotif

Bos Mercedes-Benz: Siap-siap Pemotongan Gaji karena Pandemi

FRANKFURT – Bos besar Mercedes-Benz mewanti-wanti potensi pemotongan gaji dalam jumlah besar, sebagai efek dari pandemi virus Corona (Covid-19) yang masih juga belum selesai.

Olla Kallenius selaku Chief Executive Officer Daimler mengatakan seluruh industri otomotif termasuk Mercedes-Benz—merek mobil mewah yang mereka bawahi—kini dihadapkan pada kebijakan efisiensi yang ‘menyakitkan’. Hal tersebut, menurut dia seperti dilaporkan Bloomberg pada akhir pekan ini, karena pandemi telah memukul perekonomian dengan telak.

Berbicara dalam sebuah diskusi virtual dengan serikat buruh IG Metall, Kallenius menyinggung perlunya Mercedes-Benz menjalankan efisiensi serta restrukturisasi lebih ‘dalam’ dari rencana awal yang pernah mereka umumkan sebelum pandemi. Dia menilai perusahaan perlu melakukan pemotongan gaji secara drastis.

Besaran pemotongan gaji, jelas dia, akan beragam. Para eksekutif Daimler pastinya akan mengalami reduksi gaji lebih besar daripada pekerja-pekerja dengan level di bawah mereka.

Penyesuaian kompensasi tersebut, menurut CEO non-Jerman pertama di Daimler itu, perlu untuk menyelamatkan kondisi finansial korporasi. Di samping itu, perusahaan juga perlu mengamankan investasi dalam hal riset dan pengembangan teknologi masa depan yang nilainya juga tak sedikit.

Sekadar mengingatkan, virus Corona berawal dari China pada akhir 2019. Virus menyebar di lebih dari 200 negara/teritori, termasuk Indonesia mulai Maret 2020, sehingga World Health Organization (WHO) mengategorikannya sebagai pandemi.

Pandemi telah menyebabkan lockdown (karantina wilayah) di berbagai negara. Pabrik-pabrik, dealer-dealer terpaksa ditutup dan penjualan terhenti.

Kallenius, pada April silam, pernah memprediksi bahwa rencana mitigasi awal sepertinya tidak akan cukup menahan kontraksi pasar yang dramatis. Perusahaan ini, termasuk juga merek-merek Jerman lain yaitu Volkswagen (VW) serta BMW, sama-sama mengalami kerugian di kuartal kedua.

Ifo Institut, lembaga riset yang berbasis di Munich, mengatakan pabrikan-pabrikan otomotif tetap memiliki proyeksi pasar pesimistis meski pasar otomotif Jerman, China dan Prancis mulai bergerak kembali.

Rencana restrukturisasi awal Daimler diumumkan pada November 2019. Di dalamnya terdapat pengurangan tenaga kerja hingga lebih dari 10 ribu orang untuk menghemat anggaran sumber daya manusia sebesar 1,4 miliar euro. Pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 10 ribu orang lain malahan bisa terjadi sampai 2025, menurut sumber internal perusahaan seperti diberitakan Automobilwoche.

Daimler sendiri menyebut informasi itu sebagai ‘spekulasi’. Adapun jumlah karyawan Daimler, berdasarkan data 2019, mencapai 299 ribu orang. [Xan/Ari]



Insan Akbar Krisnamusi

Insan Akbar Krisnamusi

Insan mulai menjadi jurnalis pada 2011 di Harian Umum Media Indonesia, kemudian di Suara.com (2016 - 2018), hingga akhirnya resmi bergabung ke Mobil123.com sejak Februari 2018. Ia menyelami dunia otomotif sejak 2012 dan paling tertarik dengan isu-isu industri.


Berita Utama


Komentar