Edwin Soeryadjaya pernah bergabung di PT Astra International mulai 1978 hingga Februari 1993 sebagai Vice President Director. Dari 1987 s/d 1990, Edwin memimpin program restrukturisasi di struktur finansial Astra dan berhasil membawanya menjadi perusahaan publik di Februari 1990, bahkan sebagai IPO terbesar di Indonesia di masa itu.
Pada 1993 Edwin membangun sebuah perusahaan investasi. Saat ini beliau menjabat sebagai President Commissioner di PT Adaro Indonesia, salah satu perusahaan penghasil batubara terbesar. Chairman dari PT Sapta Indra Sejati, perusahaan jasa dibidang pertambangan. Chairman dari Saratoga Capital, sebuah perusahaan investasi. Chairman PT MGTI (Mitra Global Telekomunikasi Indonesia), salah satu perusahaan KSO telekomunikasi regional di Jawa Tengah, sebagai mitra usaha dari PT Telkom.

Pria kelahiran Riau yang berayah Gorontalo dan Ibu Jawa Sunda ini mengaku terjun sebagai pengusaha akibat krisis pada 1998 lalu. Tak ada darah pengusaha di tubuhnya. "Ayah saya karyawan salah satu perusahaan multinasional dan ibu saya seorang pendidik, kakak saya juga pendidik. Dan kalau tidak ada krisis 1998, saya masih jadi karyawan," urai Sandi, biasa ia disapa.
Waktu 1998 itu, Sandi kena PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. "Jadi kalau kita melihat itu sebagai bencana ya jadi bencana. Tapi saya melihat itu, sebagai peluang. Kalau tidak di PHK, mungkin sampai sekarang saya masih bekerja pada orang lain. Tapi karena krisis itu, saya dapat berkah, dapat hidayah, sehingga bisa membuka usaha." Pengalamannya bekerja di berbagai perusahaan luar negeri membuat Sandi makin mantap mengembangkan pengetahuannya dalam berusaha. Negara-negara seperti Kanada, Hongkong, Singapura telah dilaluinya. Dan melihat kondisi perekonomian Indonesia saat ini dibanding 1998, menurut Sandi, jauh lebih bagus. Karena itu, Sandi menyarankan, pemerintah dan dunia usaha harus bisa memanfaatkan pasar domesti. Contohnya pasar properti Indonesia yang punya potensi cukup baik ke depannya. "Begitu kita bisa melakukan langkah konsolidasi terhadap domestik ekonomi kita, properti akan betul-betul menjadi primadona seperti pasca 1997-1998 lagi. Karena sudah saatnya regulasi-regulasi yang berkaitan dengan properti segera dibenahi, seperti masalah pertanahan, kepemilikan asing dan lain sebagainya."

